Tolak Kenaikan Harga BBM, Mobdin Nyaris Dibakar

Kota Bima, Kahaba.- Terhitung sejak bergulirnya isu pemerintah akan menaikkan harga satuan untuk Bahan Bakar minyak (BBM), aksi penolakan dari kalangan mahasiswa marak dilakukan di tanah air. Di Kota Bima, satu unit kendaraan berpelat merah nyaris dirusak dan dibakar massa pada Kamis kemarin. Untungnya aksi anarkis ini mampu diredam aparat keamanan.

Mobil dinas yang terperangkap nyaris menjadi bulan-bulanan demonstran. Foto: Faha

Mobil dinas yang terperangkap nyaris menjadi bulan-bulanan demonstran. Foto: Faha

Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Bima Kamis kemarin menggelar dalam aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM, di sekitar Pom Bensin Taman Ria. Dalam aksinya, mahasiswa bersitegang dengan aparat yang melakukan penjagaan. Keinginan untuk membakar ban bekas, di halang-halangi oleh aparat.

Merasa gagal membakar ban bekas, aksi yang dikoordinir Idul tersebut kemudian menyisir sejumlah kendaraan berplat merah yang menggunakan jalur jalan tersebut. Salah satu mobil dinas akhirnya berhasil dihentikan. Tidak hanya memukul-mukul mobil tersebut, massa nyaris membakarnya. Untungnya saja aksi tersebut dihalangi oleh aparat.

Yadin, salah satu orator dalam orasinya menyoroti bahwa kenaikan harga BBM tersebut merupakan sikap pemerintah yang memang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Pemerintah Indonesia saat ini bahkan telah menjadi budak dari kolonialisme barat. “Sejarah mencatat, munculnya pemberontakan, konflik horizontal dan kemiskinan akibat kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. Padahal kekayaan alam kita begitu melimpah ruah,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia saat ini tengah dijajah oleh negara-negara kapitalis seperti Amerika dan Israel. Sistem pemerintahan Indonesia sangat tak berpihak kepada rakyat. “Kalau dulu kita dijajah oleh Belanda, namun kini dijajah oleh Amerika dan Israel,” tuturnya.

Sementara dalam selebaran, HMI-MPO menyebutkan jika rencana kenaikan harga BBM yang akan dilakukan Pemerintah pada Juni ini, merupakan satu hal krusial yang perlu dikritisi bersama. Sebab, sebagaimana telah diberitakan di media, kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi terjadi karena adanya defisit APBN sebagai imbas dari naiknya harga minyak dunia. Hal ini lah yang menyebabkan pemerintah merasa perlu untuk menaikkan BBM alias mencabut subsidi BBM dalam rangka menyelamatkan APBN.

Namun kenaikan BBM jelas sangat berpengaruh terhadap kehidupan seluruh rakyat Indonesia, terutama rakyat dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah. “Berdasarkan kajian yang obyektif dan rasional dari kami HMI-MPO Cabang bima, kenaikan harga BBM akan mengakibatkan bertambahnya angka kemiskinan, pengangguran, pelacuran dan tindakan kriminalitas lainnya,” tulis HMI-MPO dalam selebaran. [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *