Rencana Penobatan Sultan Bima Disambut Demonstrasi

Kota Bima, Kahaba.- Ditengah persiapan prosesi pelantikan dan penobatan Sultan Bima yang akan digelar pada tanggal 4 Juli besok, penolakan proses penobatan atau pelantikan Sultan Bima Ferry Zulkarnain ST mulai mengaung. Massa yang menamakan dirinya gerakan bersama 4 Juli berunjukrasa di depan Kantor DPRD Kabupaten Bima, Selasa (2/7) pukul 10.00 wita. Mereka menuding Pemkab Bima, DPRD dan Majelis Adat telah berkonspirasi untuk mengembalikan feodalisme di tanah Bima.

Demo tolak pelantikan sultan bima

Demo tolak pelantikan sultan bima

Sementara aksi berjalan di luar pagar kantor DPRD, di ruangan komisi II DPRD Kabupaten Bima pun nada penolakan menggema saat terjadi audensi para mahasiswa bersama anggota legislatif. Mahasiswa juga mempertayakan sikap dewan yang menyetujui penggelontoran anggaran bagi kepentingan pelantikan Sultan Bima.

Tiga orator unjuk rasa yaitu Irul Wera, Amir Kalate dan Feri Ngali secara bergantian menyampaikan orasinya di bawah kawalan puluhan anggota kepolisian.

Dalam tuntutannya, secara umum perwakilan massa menilai rencana pelantikan sultan Bima lebih bermuatan politik kekuasaan, dimana pihak istana ingin meligitimasi keberadaan kekuatan istana, ditengah akan berakhirnya massa jabatan Bupati Bima Ferry Zulkarnain dan pasca kakalahan Ferra Amalia dalam suksesi kepemimpinan Kota Bima beberapa waktu lalu.

Juga disinggung mengenai besarnya anggaran pelantikan Sultan Bima yang berasal dari uang rakyat sebesar Rp 600 juta. Anggota DPRD yang ikut menyetujui penggelontoran anggaran untuk kegiatan pelantikan Sultan Bima dinilai sudah sama-sama berkonspirasi melegalkan pelantikan sultan Bima. Penggunaan uang rakyat untuk pelantikan tersebut dikatakan menunjukkan bahwa wakil rakyat sudah tidak lagi menjunjung aspirasi rakyat, dan terkesan menjadi bumper kepentingan kaum elit semata.

Orator juga menilai, Ferri Zulkarnain yang merupakan Bupati Bima sekarang tidak pantas menjadi seorang sultan. Alasannya selama dua periode kepemimpinannya  banyak persoalan yang ia tinggalkan. Pembakaran kantor bupati oleh masyarakat menunjukan tidak responnya Ferri Zulkarnain terhadap nasib rakyatnya.  Selain itu ditengah banyaknya balita yang kekurangan gizi, kaum muda yang mengganggur pelantikan Ferry sebagai sultan menjadi tanda tanya besar.

“Bila kemudian benar terjadi penobatan Sultan Bima atas nama Ferry Zulkarnain, maka akan terjadi sebuah kecelakaan sejarah yang mengenaskan di tanah Bima,” pungkas orator aksi.

 Setelah beberapa jam menggelar demo, massa kemudian membubarkan diri secara damai. Namun sebelumnya, massa aksi mengancam akan memboikot prosesi penobatan Sultan Bima untuk menggagalkan kegiatan yang akan berlangsung besok di Museum Asi Mbojo itu. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *