Disangka Pelaku Santet Sang Kakek Dibakar

Kabupaten Bima, Kahaba.- Peristiwa ‘bar-bar’ kembali terjadi di Bulan Ramadhan Tahun ini. Kali ini, cerita Sang kakek yang di akhirnya dibakar hidup-hidup oleh massa lantaran ‘dikenal’ sebagai pelaku santet di desa itu. Fakta ini terjadi di Desa Wadukopa, Kecamatan Soromandi, Jum’at siang sekitar pukul 11.00 WITA.

Tempat kejadian perkara dibakarnya kakek yang diduga dukun santet oleh massa. Foto: Iksan

Tempat kejadian perkara dibakarnya kakek yang diduga dukun santet oleh massa. Foto: Iksan

Awal cerita dari Sumber Kahaba yang namanya tak ingin diungkapkan bahwa sekitar seminggu yang lalu seorang Nenek bernama La Amu, istri H. Pasa (Korban Pembakaran Massa) hendak meminta jajan yang dibuat di rumah tetangganya, Nurita (25).

Namun, perempuan yang akrab di panggil Rita itu lupa membagi jajan kepada La Amu (55). “Karena mungkin merasa sakit hati, La Amu diduga menyantet Rita,” katanya.

Lanjut Sumber, selama seminggu Rita jatuh sakit setelah kejadian itu. “Rita mengalami penyakit aneh dan keadaan rambutnya terkepang dengan sendirinya. Biasanya, ciri rambut seperti itu karena disantet,” ungkapnya.

Menurut Sumber pula, H. Pasa dan Istrinya kerap ‘dikenal’ sebagai tukang santet di Desa Wadukopa. Sekitar tahun 2001 lalu, karena meninggalnya seorang kakek yang diduga disantet oleh La Amu, penghakiman massa terhadap La Amu pernah terjadi. “La Amu nyaris meninggal saat itu, namun tiba-tiba La Amu beberapa hari kemudian kembali pulih. Rumor bahwa La Amu atau Ina La Jo itu mampu menyembuhkan dirinya hanya dengan menjulurkan lidah ke setiap luka yang dialaminya,” ungkapnya.

Seminggu menderita penyakit aneh, Jum’at pagi sekitar pukul 08.00 Wita, akhirnya Rita meninggal dunia. “Sebelum meninggal, Rita pun berpesan sebagaimana rekaman yang beredar bahwa sakit yang dideritanya akibat perbuatan santet yang dilakukan H. Pasa,” kata Sumber warga Kecamatan Soromandi itu.

Penguburan Rita pun rencananya dikebumikan seusai sholat Jum’at siang (2/8/13). Namun sekitar pukul sepuluh pagi, tiba-tiba muncul reaksi masyarakat yang mengamuk ke rumah H. Pasa. Massa merusak rumah dan menyeret lalu membakar Ayah tujuh orang anak itu hidup-hidup. “H. Pasa tidak dapat melawan amarah massa. dan tak ada dari pihak keluarganya pun yang membelanya,” ujarnya.

Setelah belasan botol bensin yang menyulut tubuh H. Pasa, akhirnya ia meninggal dalam keadaan gosong dan mengenaskan.

Selain itu, lanjut Sumber, bukan hanya H. Pasa yang sebenarnya menjadi sasaran amarah warga. Istrinya La Amu yang akan menjadi sasaran selanjutnya. Tapi, La Amu tidak ditemukan oleh warga. “Informasinya, La Amu langsung di amankan di Mapolres Bima Kabupaten,” katanya.

Karena kejadian pembakaran itu, Rita tidak jadi dikebumikan seusai sholat Jum’at, namun sehari setelah itu (Sabtu, 3 Agustus 2013). Sedangkan mayat H. Pasa langsung dikuburkan di TPU Desa Wadukopa.  [C/BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Sudirman Sattar

    Assalaam..Ya Allah ya Rabb krn kebodohan terhadap agamaMu dan terhasut syaithan durjana saudara kami menjadi bejat dan berani menodai kesucian bulan Ramadlan Mu ini kami tdk berdaya lg membela mrk dari kedhaliman hanya do’a yg bisa kami panjatkan bg almarhum smg engkau ampuni sgla dosa dan diterima amal shalehnya jk benar2 didholimi.. Bg yg membunuh smg mendaptkan Hidayah tk segera bertaubat dgn sisa umurnya krn klo tdk jelas sekali ancamanMu ya Rabb Neraka jahannam tk selamanya bgitu jg dgn almarhum jikalau benar2 melakukan santet (yg dituduhkan), tp sebenarnya keluarga Rita yg membunuh sudah membahagiakan syetan krn mempercayai bgitu saja bisikan syetan hingga mengorbankan ttangganya sendiri…dari jauh kami menghimbau kpd Ina ro ama cinaro angi waira ompu dimbojo tk tdk terjebak pd kenistaan atas nama santet krn itu adlh senjata iblis tk menbuat kita bersedi hati dan sengsara selamanya baik dunia apalagi di akherat..wassalaam..suara dari rantauan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *