Petugas Pelabuhan ‘Kewalahan’ Hadapi Arus Balik

Kota Bima, Kahaba.-  Kondisi Pelabuhan Bima, Sabtu pagi, 10 Agustus 2013 kembali ‘dipadati’ manusia. Banyaknya pemudik yang kembali ke kota kota besar tujuan Sulawesi dan Kalimantan , membuat petugas keamanan kapal yang mengatur lalu lintas penumpang terlihat kewalahan. Karena khawatir tidak mendapat kebagian tempat, penumpang, porter pelabuhan, pedagang asongan dan pengantar, terlibat saling desak-desakan ditangga kapal.

Pemudik membludak saat arus balik di Pelabuhan Bima, MInggu, 4 Agustus 2013. Foto: Bob

Pemudik desak-desakan saat arus balik menuju Makasar di Pelabuhan Bima, Sabtu, 10 Agustus 2013.  Foto: Bob

Dari pantauan Kahaba, kondisi itu membuat aparat keamanan dan petugas pelni yang berada di tangga kapal pun terpaksa mendorong para pengantar dan pengunjung kapal yang tidak mampu menunjukkan tiket. Akibatnya , beberapa pengantar terjungkal diantara kerumunan yang berdesak desakan di bawah tangga kapal .

Petugas, pengantar dan penumpang terlibat adu mulut terkait barang bawaan penumpang yang melebihi kapasitas angkut dan harus di kenakan biaya tambahan. Namun, penumpang menolak adanya biaya tambahan tersebut. Kericuhan pun tak terelakkan di kapal Pelni itu, walaupun pada akhirnya, penumpang mau membayar kelebihan muatan tersebut.

Usman Muhammad Tang , Kapten Kapal KM Wilis mengungkapkan, kendati jumlah penumpang saat mudik lebih banyak dari hari hari biasanya, namun jumlah tersebut masih masuk dalam batas toleransi kewajaran. “Para penumpang masih punya banyak ruang dalam kapal yang bisa digunakan untuk istirahat,” akunya.

Menurut Usman, dibeberapa pelabuhan bersandarnya kapal Pelni, pemandangan kesemrawutan seperti di Pelabuhan Bima ini lumrah terjadi. Untuk itu, Pelni pusat telah meminta batuan TNI AL untuk membantu kelancaran arus naik turunnya penumpang  di setiap pelabuhan,” ujarnya.

Seorang penumpang kapal, Madi mengakui bahwa jeda waktu seminggu antara keberangkatan kapal menuju Makassar dengan kapal berikutnya, membuat lonjakan penumpang pengguna jasa kapal Pelni cukup signifikan.

Menurutnya pula, masalah kesembrawutan di Pelabuhan Bima dalam momen lebaran dan menjelang arus mudik maupun arus balik adalah  jumlah pengantar yang kurang lebih berbanding lima kali lipat dengan jumlah penumpang. Selain itu, kurangnya infrastruktur Pelabuhan Bima untuk  menampung ribuan orang yang akhirnya tidak mampu mengatur antrian penumpang.

“Sudah pasti dimomen lebaran dan dalam suasana arus mudik maupun arus balik kondisi pelabuhan Bima  pasti disesaki ‘lautan’ manusia dan harus saling desak-desakkan naik ke atas kabin kapal. Semoga saja, kondisi ini dapat segera dikondisikan dengan layak oleh Pemerintah, agar kesembrawutan tidak terjadi  lagi,” harapnya. [C]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *