Di Rontu, Mortir Sisa PD II Ditemukan

Kota Bima, Kahaba.- Benda sisa Perang Dunia (PD) kedua ditemukan warga di bilangan Kelurahan Rontu. Benda itu berbentuk Proyektil anti tank dan saat ini sudah diamankan di Sat Reskrim Polres Bima Kota, Senin (19/8) malam dan telah diidentifikasi Tim Penjinak Bom (Jibom) Brimob Bima, Selasa (20/8) pagi. Diduga Proyektil itu pun masih dalam keadaan aktif.

Contoh Mortir

Contoh Mortir

Kasat Reskrim Polres Bima Kota, AKP Agus Dwi Ananto, SH mengatakan, bahan peledak yang awalnya di duga adalah granat yang ditemukan warga Rontu, Senin sore sekitar pukul 17.00 Wita. Warga menemukan barang itu saat menggali sumur di pinggir sungai kelurahan setempat.

Menurut Agus, barang yang sama juga pernah ditemukan warga beberapa waktu lalu sekitar 20 meter dari lokasi tersebut. “Untungnya warga langsung melapor pada anggota Polisi yang tinggal di Rontu sehingga barang langsung diamankan ke Reskrim dan tidak dipersalahgunakan oleh warga,” ujarnya.

Pihaknya telah berkoordinasi ke Jibom Brimob Bima dan dibawa ke markas  untuk diidentifikasi. “Ternyata bukan granat, tetapi proyektil anti tank buatan rusia,” tuturnya.

Proyektil anti tank itu seberat 500 gram dengan panjang 14 cm dan lebar 4 cm itu, diduga peninggalan Perang Dunia II. “Kondisinya sudah berkarat, diluncurkan oleh Jibom tapi tidak meledak karena tidak ada pemicunya. Tapi berpotensi meledak jika dibakar,” jelasnya.

Kemungkinan adanya bahan serupa di lokasi setempat. Pihaknya kini sedang mendalami. Karena sifatnya temuan, kata dia, kepolisian mengharapkan laporan warga. Jika menemukan barang seperti proyektil itu, diharapkan tidak melakukan tindakan seperti membakar atau lainnya. “Kami berharap jika ada temuan masyarakat langsung melapor ke kantor Polisi terdekat,” kata Agus di ruangannya, Selasa 20 Agustus 2013. [B]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *