Sertifikasi Mengendap, Bagian Keuangan ‘Cuci Tangan’

Kabupaten Bima, Kahaba.- 331 orang guru yang belum mendapat sertifikasi pada triwulan pertama di lingkup Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bima konon sudah bisa diambil ke rekening masing-masing.  Demikian pula dengan sertifikasi guru di triwulan kedua yang menelan anggaran sekitar Rp 20 miliar, sudah diterbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh Bagian Keuangan Setda Pemerintah Kabupaten Bima, Jum’at siang, 23 Agustus 2013.

Ilustrasi

Ilustrasi

Kepala Bagian Keuangan Pemerintah Kabupaten Bima, Drs. M. Yamin yang dari Kamis kemarin (22/8/13) tak mau menanggapi masalah pengendapan dana sertifikasi guru saat dikonfirmasi wartawan. Akhirnya, Jum’at malam, 23 Agustus 2013, sekitar pukul 20.15 Wita, Yamin baru memberikan keterangan persnya pada Kahaba.

Kata Yamin, Jum’at siang (23/8/13) tadi, semua pengurusan administrasi untuk guru baik pencairan sertifikasi triwulan pertama dan kedua sudah mulai di transfer ke masing-masing rekening guru. “Uang itu bisa diambil sekarang,” katanya.

Yamin menerangkan, masalah keterlambatan pembayaran untuk 331 orang guru sertifikasi di triwulan pertama karena harus ada tanda terima dari guru dan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi seperti kewajiban mengajar selama 24 jam dalam seminggu. Jika tidak, harus ada pernyataan bila belum memenuhi untuk mendapat sertifikasi itu.

“Kami sebenarnya ingin mencairkan sebelum lebaran, masalah tertunda pembayaran triwulan pertama lebih detailnya tanyakan ke Dinas Dikpora. Kalau kami sudah dari dulu mencairkan SP2D untuk sertifikasi di triwulan pertama,” ungkapnya.

Yamin menambahkan, sedangkan untuk triwulan kedua sudah Jum’at siang (23/8) di cairkan SP2D-nya. Dan bagi tunjangan sertifikasi guru yang tertunda pada triwulan pertama akan mengambil langsung untuk enam bulan. Saat ditanya kenapa baru dicairkan SP2Dnya sekarang? Yamin menjawab, karena masih ada pengurusan administrasi dari pihak Dikpora Kabupaten Bima yang belum diselesaikan. “Kebetulan Saya saat itu masih di Mataram,” kilahnya.

Saat ditanya lagi kapan pengajuan Surat Perintah Membayar (SPM) yang harusnya setelah lima hari SPM keluar harus disusul penerbitan SP2D?, Yamin menjawab, “baru satu dua hari ini”. Intinya, kata Yamin, uang itu saat ini sudah dalam bentuk Bank Garansi (BG) dan pihak bank akan langsung mengalokasikan dana sertifikasi ke masing-masing rekening para guru. “Uang sertifikasi dan non sertifikasi sudah bisa diambil mungkin senin (26/8/2013) besok,” tutur Yamin via ponselnya.

Ia menjelaskan pula, selama penyimpanan uang di bank bila ada keuntungan bunga berjalan, nantinya akan masuk ke dalam kas daerah. Ditanya berapa jumlah guru yang menerima sertifikasi? Yamin mengarahkan untuk menanyakan secara detail ke pihak Dikpora Kabupaten Bima.

Sementara itu, Dinas Dikpora Kabupaten Bima lewat salah seorang pegawainya, Nasrullah mengatakan, masalah keterlambatan ini karena dari Bagian Keuangan Pemerintah Kabupaten Bima belum menerbitkan SP2D untuk pencairan uang sertifikasi para guru tersebut. “Kami masih menunggu SP2D bersama pihak bank untuk mencairkan uang tunjangan sertifikasi ke masing-masing guru penerima sertifikasi,” jelas Nas Kepada Kahaba, Kamis (22/8/2013) kemarin.

Demikian pula halnya dengan Pihak Bank NTB. “Sekitar Rp 20 miliar uang sertifikasi di Bank NTB dan Bank BRI tinggal menunggu SP2D langsung di cairkan ke masing-masing rekening Guru,” kata Immanuel salah satu karyawan Bank NTB pada Kahaba, di kantornya, Kamis (22/8/2013) kemarin.

Salah seorang guru sertifikasi yang mengabdi di Pemerintah Kabupaten Bima mengatakan, hingga Jum’at malam ini, uang tunjangan sertifikasi di rekeningnya belum ada masuk. “Belum ada uang sertifikasi triwulan kedua yang masuk ke rekening saya. Baru saja saya cek di ATM,” ujar Sumber kepada Kahaba, Jum’at (23/8) via ponselnya.

Semestinya, kata guru itu, seperti tahun 2012 lalu, uang sertifikasi dicairkan di bulan Juli. “Di Kota Bima, kata Dia, para guru sertifikasi sudah mendapat tunjangan sertifikasi untuk triwulan kedua, sedangkan Pemerintah Kabupaten Bima saja yang menunda-nunda.

“Yang jelas, informasinya, uang sertifikasi di Bank NTB senilai Rp 5 miliar dan BRI senilai Rp 15 miliar sudah lama ada di sana. Mudah-mudahan senin sudah bisa masuk ke rekening Saya,” harapnya sembari mengakhiri wawancara dengan Kahaba lewat ponselnya. [BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *