Dikes Ganti Beras Busuk Bagi Penderita Kusta

Kabupaten Bima, Kahaba.- Dua eks penderita kusta yang mendatangi kantor DPRD Kabupaten Bima, Jum’at (20/9). Kehadiran mereka melaporkan ulah oknum pegawai di Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Bima yang memberikan beras busuk bagi para penderita kusta di pemondokan. Mendapatkan laporan tersebut sejumlah anggota Dewan geram mendengar hal itu. Setelah melihat dan mencium langsung beras yang dibawa, ternyata baunya begitu busuk dan kondisi beras berkutu.

Ilustrasi

Ilustrasi

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Bima drg. Hj. Hadjar Yunus mengakui kesalahan bawahannya yang memberikan beras busuk kepada penghuni pemondokan penderita kusta di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima. Untuk itu, dirinya mengaku telah mengganti semua beras busuk dimaksud dengan beras yang layak.

Kata Hadjar, pihaknya mendapatkan informasi langsung dari salah satu anggota Dewan kaitan dengan masalah tersebut. “Saya langsung menindaklanjutinya dan saat itu juga mengganti beras busuk yang dengan beras yang layak untuk dikonsumsi. Saat ini tidak ada masalah lagi,” ujar Hadjar di kantornya, Sabtu, 21 September 2013.

Ditanyakan sanksi terhadap bawahannya? Hadjar sudah memberikan sanksi berupa teguran keras kepada yang bersangkutan. “Teguran keras untuk saat ini sudah sesuai dengan aturan kepegawaian yang ada,” tandasnya. Kemudian mengenai jumlah bantuan bagi para penderita kusta selama ini? Hadjar mengakui, selama ini kebutuhan para penderita kusta yang dibantu dari anggaran Pemerintah Propinsi sekitar Rp 20 juta setahun.

“Untuk realisasinya, beras diberikan masing-masing sebanyak Rp 15 kilogram dan untuk pembayaran listriknya selain itu ada oembiayaan untuk sejumlah kebutuhan lain bagi para penghuni pemondokan kusta tersebut,” jelas Hadjar. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *