Dewan Desak Pemerintah Tambah Anggaran Balita GB

Kabupaten Bima, Kahaba.- Angka balita penderita Gizi Buruk (GB) di Kabupaten Bima memang sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bayangkan saja, jumlahnya sudah mencapai 5.896 orang balita, bahkan tertinggi di Nusa Tenggara Barat (NTB). DPRD Kabupaten Bima melalui Badan Anggaran (Banggar) pun mendesak Pemerintah untuk menambah anggarannya.

ilustrasi

ilustrasi

Anggota Banggar DPRD Kabupaten Bima, Sukrin HT mengatakan, wajib hukumnya pemerintah menambah alokasi anggaran untuk penanggulangan balita kurang gizi dan gizi buruk. Jika tidak, bahkan dirinya bertanya siapa lagi yang akan menyelamatkan generasi bangsa kedepan, apalagi jumlah penderitanya sudah mencapai angka 5.896 orang balita. “Angka ini sangat tinggi. Jadi wajib pemerintah untuk menambah alokasi anggaran untuk penanganan,” tegasnya Senin (23/09).

Menurut Sukrin, jumlah balita yang gizi buruk tersebut patut membuat semua pihak merasa prihatin. Angka 5.896 balita yang menjadi penderita di zaman seperti ini bukan lagi kecil, tetapi sudah sangat mengkhawatirkan. Rasa prihatin pun tidak saja dilihat dari banyaknya jumlah balita yang menderita, tetapi bagaimana Pemerintah Kabupaten Bima bisa serius menanganinya. “Untuk itu, dalam pembahasan anggaran kedepan kami meminta agar diutamakan penambahan anggaran bagi penanggulangan balita penderita gizi buruk tersebut. Agar pihaknya juga bisa mendorong penambahan anggarannya,” ujarnya.

Bahkan dirinya selaku salah satu anggota Banggar, akan memperjuangkan dan membahasnya bersama di tingkat Komisi IV. “Saat ini baru tingkat pembahasan KUA-PPAS Perubahan, tentunya nanti akan ada evaluasi komisi,” katanya.

Duta PAN itu menegaskan, banyaknya balita yang menderita gizi buruk dan gizi kurang, harus mendapatkan perhatian serius dan secepatnya dituntaskan. Apalagi yang menjadi salah satu tolak ukur Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah kesehatan masyarakat. Jika balita begitu banyak yang menderita penyakit itu, dipertanyakan seperti apa generasi bangsa ini ke depan. “Jika hal ini tidak segera ditangani, generasi kita kedepan tentu tak yang berkualitas. Karena sejak balita sudah mengalami penghambatan perkembangan secara fisik dan mental,” jelasnya. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *