Tekanan Ormas Islam di Balik Kasus ‘Pesta Maksiat’

Kabupaten Bima, Kahaba.– Ratusan  massa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhamadia (IMM) dan Ikatan Pemuda Muhammadiayh (IPM) Bima melakukan aksi demo di Polres Bima, Senin (23/9/13) kemarin. Mereka menuntut, Kapolres Bima segera ‘hengkang’ dari Kabupaten Bima. Desakan mahasiswa dan pemuda muhammadiyah tersebut menyusul keterlibatan Kapolres Bima, AKBP I Gusti Putu Gede Ekawana Prasta dalam ‘pesta maksiat’ yang diselenggarakan oleh Event Organizer (EO) CV. Timur Enterprise yang disponsori oleh Perusahaan rokok Gudang Garanm (GG) Mild di Hotel Kalaki Beach, Sabtu, 14 September 2013 lalu.

Aksi IPM dan IMM di depan Polres Bima. Foto: Bob

Aksi IPM dan IMM di depan Polres Bima. Foto: Bob

IMM menuding keterlibatan Kapolres Bima yang mengawal acara tarian semi bugil di Hotel Kalaki Beach itu, dinilai sebagai tindakan yang mencoreng nama baik Bima yang selama ini dikenal sebagai masyarakat yang religius dan berbudaya. Aksi tarian porno oleh dua gadis yang didatangkan secara khusus dari bali dalam acara launching rokok GG Mild juga telah menyakiti hati masyarakat Bima.

Koordinator aksi, Abdullah, SH kepada wartawan menuding Kapolres Bima telah berkonspirasi untuk mensukseskan acara promosi GG Mild  di Hotel Kalaki Beach itu. Karenanya, terang Abdullah, tindakan amoral tersebut harus dilawan dan harus di usir dari daerah Bima. ”Untuk itu kami mengajak masyarakat Bima mengambil sikap untuk menyelamatkan kearifan lokal masyarakat Bima yang selama ini tetap terjaga,” pungkasnya.

Dia pun meminta, kepada Kapolda NTB untuk memindahkan Ekawana sebagai Kapolres Bima, karena di nilai telah sengaja mendukung ‘pesta maksiat’ itu, apalagi dalam acara tersebut penuh dengan aroma minuman Keras (Miras). Abdullah juga mendesak pemerintah Kabupaten Bima untuk mencabut ijin Hotel Kalaki Beach, karena di duga selaku ‘Sarang Miras’ tersebut. Selain itu, GG Mild di Bima harus angkat kaki lantaran perusahan rokok ini sengaja membiaya acara yang menciderai budaya dan agama di darerah ini.

Semua pihak yang terlibat harus bertanggung jawab,” tegas Abdullah alias Ebit. Tak cuma itu, kegiatan itu dinilai oleh Abdullah tidak ada ruang untuk ditolerir lagi. Ia mendesak penegak hukum agar secepat mungkin menangkap pemilik Hotel Kalaki Beach, Penyelenggara dan penari bugil itu. ”Termasuk Kapolres Bima harus diproses secara hukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” desaknya.

Jika aspirasi ini tidak di indahkan, tegas Abdullah, pihaknya akan turun melakukan aksi bersama masyarakat dengan jumlah massa yang banyak. ”Kejadian pencideraan moral Bima yang religius ini, harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. Terutama buat pemerintah harus lebih giat lagi dalam melakukan pengawasan terhadap hal-hal yang berbau pelanggaran nilai di Bima,” ujarnya.

Kata Dia, kegiatan ini pun bertentangan dengan semangat dikembalikannya nuansa kesultanan Bima yang baru beberapa bulan yang dilantiknya seorang Sultan. “Bupati harus tegas dalam hal ini, karena Beliau merupakan pawang dari nilai kesultanan dimana Bima dikenal sebagai daerah serambi mekah kedua di negeri ini,” tandas pengurus KNPI Kabupaten Bima itu.

Demontrasi itu pun tak mendapat jawaban dari Kapolres Bima. Massa aksi tak ingin adanya perwakilan. Dan akhirnya, tak ada jawaban yang diperoleh dari tuntutan massa asal Organisasi Kepemudaan di Muhammadiyah Bima itu. Demonstrasi itu pun memacetkan jalan di depan kantor Polres Bima.

Selain itu, sebelumnya, Kamis, 19 September 2013, Jamaah Ansorul Tauhid (JAT) menggelar audiensi dengan Kapolres Bima. JAT pun menuntut Kapolres untuk meminta maaf dan memproses kasus itu sesuai dengan hukum yang berlaku.

Dari diskusi group Blackberry Massengger internal wartawan, dari keterangan awak pewarta di Mataram, saat konferensi pers Humas Polda NTB, Selasa, 24 September 2013. Saat ini sudah ada tersangka dari Kasus tersebut. [BM/B/SR]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *