Pentungan Mengarah ke Wartawan, Wakapolres Minta Maaf

Kota Bima, Kahaba.- Wartawan kini menjadi korban. Lantaran meliput demonstrasi mahasiswa asal STKIP Taman Siswa, empat awak pewarta akhirnya diduga terkena pentungan petugas. Aksi bentrok massa dari STKIP Taman Siswa yang menggelar demo persoalan ‘pesta maksiat’di Hotel Kalaki Beach beberapa waktu lalu yang digelar di depan kantor DPRD Kabupaten Bima, Senin, 30 September 2013, polisi seolah menghalang-halangi wartawan untuk mengambil gambar. Polisi pun diduga mengancam bahkan melakukan penganiayaan.

Sejumlah wartawan mendatangi Mapolres Bima Kota, Senin. 30 September 2013. Foto: Gus

Sejumlah wartawan mendatangi Mapolres Bima Kota, Senin. 30 September 2013. Foto: GusWartawan,

Akhirnya, empat orang Jurnalis yang menjadi korban, masing–masing, Edi Irawan (Kompas TV), Sofiyan Asy’ari (Bimeks), Azhar Islam (TV9) dan Amirul Mukminin (Radar Tambora), dengan diantar oleh puluhan wartawan lainnya mengadukan sikap aparat tersebut ke Mapolres Bima Kota.

Pengaduan dan bentuk klarifikasi puluhan wartawan itu pun di terima Wakapolres Bima Kota, Kompol Muh. Nasution, SIK. Nasution menyampaikan permohonan maaf atas tindakan anak buahnya tersebut. “Saya minta maaf, karena memang kondisi di lapangan tadi sangat situasional,” ujarnya.

Kata Nasutiuon, dari pagi pihaknya memang tidak menerima surat aksi asal Mahasiswa STKIP Taman Siswa terkait unjuk rasa tarian semi bugil di depan kantor DPRD Kabupaten Bima. “Kami dengar kabar ada pengerusakan gerbang di depan kantor DPRD Kabupaten Bima, anggota langsung meluncur dan menangani aksi tanpa izin tersebut. Ini akan jadi bahan evaluasi ke depan, agar anak buah tidak melakukannya lagi,” jelasnya.

Seorang korban, Sofiyan Asy’ari mengaku, memang wartawan sebelumnya tidak ada yang tahu akan ada demo di DPRD Kabupaten Bima. Tiba tiba saja dirinya dan sejumlah wartawan lain meliput massa yang leluasa merusak pagar kantor tersebut hingga terjadi bentrok dengan pegawai DPRD Kabupaten Bima

Kata Fiyan, seketika itu pun aparat datang dan mengejar mahasiswa. Pendemo yang tertinggal, akhirnya dinaikan ke mobil dalmas Polisi. “Wartawan yang melihat itu langsung mengambil gambar. Tapi aparat justru menghalanginya, memukul dengan pentungan dan mengancam,” terangnya.

Lanjut Fiyan, karena pentungan aparat pendek, jadi pukulannya tidak mengenai fisik wartawan. Tetapi sebagian peralatan liputan wartawan seperti kamera SLR dan Kamera Vidio, terkena pukulan. “Kami diancam dan dipukuli, untung pentungan tidak panjang. Solidaritas pun muncul dari rekan-rekan wartawan yang lainnya,” pungkas Fiyan di Mapolres Bima Kota.

Ia berharap, insiden tersebut menjadi pembelajaran untuk semua. Kemitraan antar aparat dan polisi yang sudah lama terbangun, jangan pernah ternodai lagi. “Kita coba saling memahami tugas masing-masing. Kami meliput apapun itu telah diatur dalam undang–undang,” tegasnya. [BK/BM/BS/AL/SY]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.