Seminar Bima Emergency Update 2013 Digelar

Kota Bima, Kahaba.- Masalah kesehatan adalah masalah pokok dan menjadi kepentingan hajat hidup warga negara yang harus dilayani. Kampanye pendidikan gratis dan berkualitas memang butuh waktu yang panjang disertai pengabdian kerja yang totalitas. Memberikan kesehatan atau menyembuhkan penyakit kepada pasien adalah sumpah luhur tenaga medis dan dokter saat lulus dari bangku kuliah. Dan sumpah itu biasa di kenal dengan sumpah Hippokrates.

Ketua Panitia, dr. Irma Zaimatuddunia, Sp.PD, MSC. Foto: Gus

Ketua Panitia, dr. Irma Zaimatuddunia, Sp.PD, MSC. Foto: Gus

Namun, dalam perjalanan memberi kesembuhan pada pasien. Di Bima, masih banyak kasus dan kendala yang ada. Penyakit emergency seperti jantung, diabetes dan struk, kerap kurang mendapat pelayanan yang prima. Ada karena masalah obat, masalah sarana dan prasarana maupun masalah di sumber daya manusianya.

Menilik kondisi kesehatan itu. beberapa kasus kesehatan terutama masalah penyakit jantung yang selama ini masih kurang maksimal dilayani pihak tenaga medis di Bima, kini mulai dilakukan pembenahan. Pelatihan dan workshop adalah salah satu caranya. Di tengah keterbatasan obat dan alat yang ada, ternyata tak membuat pelaku para medis dan dokter untuk pantang menyerah. Kegiatan seminar pun akhirnya digelar. Kegiatan dengan tema Bima Emergency Update 2013 on Cardiology, Endocrinology, and Cerebrovascular di gelar Komite Medik RSUD Bima beserta IDI Cabang Bima di gelar, Ahad, 6 Oktober 2013, di gedung convention Hall Paruga Nae kota Bima.

Seminar itu diselenggarakan dengan tujuan lebih meningkatkan kualitas diri paramedis dan dokter dalam membantu pasien di tengah keterbatasan penanganan medis yang ada.

Ketua Panitia Kegiatan, dr. Irma Zaimatuddunia, Sp.PD, MSC mengatakan, kegiatan seminar ini khusus untuk dokter dan para medis.

“Latar belakang diselenggarakannya seminar ini, karena banyakkasus emergency terutama jantung dan struk di RSUD Bima. Saat ini, kita tidak punya ahli jantung ahli dan alat-alat penunjang medis pun masih terbatas, Kami merasa dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bima dan Komite medik RSUD Bima merasa perlu ada tambahan pengetahuan dan wawasan terutama bagi dokter dan para medis yang menangani pasien terutama penyakit emergency seperti di puskesmas, UGD Rumah Sakit maupun di klinik-klinik agar lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan kepada pasien atau masyarakat,” jelasnya.

Alumnus Kedokteran Universitas Sultan Agung mengungkapkan, acara ini sengaja diundang pembicara-pembicara yang berskala nasional. Dalam materi Kegawatdaruratan Kardiologi, panitia mengundang DR. dr. Anwar Santoso, SpJP (K) dari Rumah Sakit Jantung harapan Kita. dr Anwar pun adalah dokter jantung Bupati dan Walikota Bima.

Kata Irma, dalam materi Tatalaksana Kegawatdaruratan pada penyakit Diabetes Mellitus, pembicaranya adalah dr. Soebagijo Adi, SpPD-KEMD. “Ada pula dua dokter spesialis asal Universitas Erlangga yang jadi hadir dan menjadi pembicara dalam acara seminar ini,” ujar dokter  Spesialis Penyakit Dalam FK UGM itu.

Menurutnya, materi pada penanganan penyakit emergency di bidang kardiologi (jantung) dan  endoktrin atau diabetes meletus serta Cerebrovascular (penyakit-penyakit saraf, pendarahan dan struk) adalah hal yang penting dalam transformasi ilmu yang lebih detail dan spesifik kepada pelaku kesehatan khususnya di Bima. Karena memang, di Bima keterbatasan penanganan medis masih kurang dalam menangani penyakit emergency tersebut.

Ia melanjutkan, selain pemberian materi, digelar juga demonstrasi pemberian obat-obatan tertentu. Harapannya, setelah melatih tentang tiga hal penyakit emergency, diharapkan para tenaga medis lebih percaya diri dan memiliki pengetahuan dalam menangani pasien nantinya.

Panitia dan pembicara Bima Emergency Update 2013 on Cardiology, Endocrinology, and Cerebrovascular. Foto: Gus

Panitia dan pembicara di acara seminar Bima Emergency Update 2013 on Cardiology, Endocrinology, and Cerebrovascular. Foto: Gus

“Ratusan peserta hadir di acara seminar ini. Pesertanya ada yang dari Bima, Dompu dan Sumbawa bahkan ada yang dari Mataram. Mereka terdiri dari para medis dan dokter,” ujar Kepala SMF Penyakit Dalam RSUD Bima itu.

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Bima yang memfasilitasi gedung Convention Hall sebagai tempat acara ini. Dan ucapan yang sama kepada Pemerintah Kabupaten Bima  bereta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) serta beberapa sponsor farmasi yang mendukung acara ini.

Kata Irma, acara seminar ini hanya berlangsung sehari saja. Anggarannya pun mencapai Rp 100 juta rupiah. Anggaran itu diperoleh dari kontribusi peserta dimana dr. Umum Rp 250.000, Perawat Rp 150.000 dan Mahasiswa Rp 100.000. Dalam acara ini, peserta mendapat Akreditasi IDI yaitu Seminar  4 SKP dan Workshop 2 SKP. Selain itu, peserta diberikan door prize, seminar kit, buah tangan dan sertifikat.

Sebagai panitia, Irma berharap, acara ini bisa bermanfaat untuk pekerja medis sehingga dapat lebih percaya diri dalam menangani pasien yang menderita penyakit emergency sehingga dapat diberikan penanganan yang lebih cepat.

“Sebelumnya banyak kasus yang ada, di mana pasien jantung tidak boleh langsung di kirim dalam fase akut. Dia harus tertangani dulu. Masalah lain pun karena beberapa obat khusus penyakit emergency ini tidak ada di Bima. Untuk itu, semua pihak bisa terlibat baik penyedia obat (perusahaan farmasi), pelaksana pengobatan dan memperbaiki fasilitas yang ada di Rumah Sakit adalah bagian dari obat di balik penyakit penanganan kasus emergency ini. Masalah intinya, minimnya sarana dan prasarana yang menunjang di Rumah Sakit selain tenaga spesialis di RSUD Bima juga yang masih kurang,” paparnya.

Dalam acara ini pun, selain diselenggarakan oleh IDI Cabang Bima, Komite Medik (KOMED) RSUD Bima, kegiatan ini dibantu pula oleh organisasi Intersif yaitu gabungan dokter asal Jakarta yang sengaja datang untuk menyukseskan acara ini. [BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Terimakasih atas partisipasi dan kerjasama peserta, pembicara, panitia, pihak pendukung dan masyarakat Kota-Kabupaten Bima atas terselenggaranya acara ini.

    Semoga dapat menjadi agenda rutin berkesinambungan. demi kemajuan dunia kesehatan dan pelayanan masyarakat di Bima.

  2. kobruth

    Mau tanya ya,
    1.Penyakit struk itu apa ya? Maaf saya baru dengar. Setahu saya stroke.
    2.Dokter intersif itu apa ya?
    3.Terus terang saya masih bingung dengan tata bahasanya, terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *