PNS ‘Ngeyel’ Tak Mau Terima Mutasi

Kota Bima, Kahaba.- Kendati sudah mendapat SK mutasi, sejumlah PNS yang menolak dan sudah mengeluarkan surat keterangan penolakan SK tersebut, belum bisa memastikan akan berdinas dimana. Hingga kini, masih menunggu kepastian hasil PTUN yang rencananya akan diserahkan berkasnya pada Senin pekan mendatang.

Ilustrasi

Ilustrasi

Salah seorang PNS yang dimutasi dari salah satu Kasi di Kantor Bappeda Kota Bima dan menjadi staf di Kelurahan Ntobo, Syahwan, MT mengaku pasca menerima SK Mutasi dari Pemerintah Kota Bima, ia menghadap Kepala Bappeda. Namun, anehnya kepala Bappeda bingung hendak menjawab apa, dan belum dipastikan dirinya akan berdinas di  mana.

“Kepala Bappeda berencana akan konsultasi dulu ke BKD dan Bapperjakat,” ujarnya.

Karena dirinya sudah mengajukan surat penolakan mutasi di Kelurahan Ntobo. Maka dirinya tetap bertandang ke kantor Bappeda. Saat bertandang di kantor tersebut Selasa kemarin, namanya masih ada dalam absensi.

Tapi, pada hari sebelumnya atau hari Senin kemarin, namanya dihilangkan. “Tadi (Selasa) nama saya muncul lagi di Absensi,” terangnya.

Ia mengaku, sebagai PNS yang dimutasi, dirinya dan sejumlah PNS lain berhak mengajukan surat penolakan mutasi tersebut. Dan akan bisa mengikuti isi dari SK Mutasi itu, jika sudah ada keputusan dari PTUN.

“Sekarang saya juga tidak tahu, apakah saya masih di Bappeda atau tidak. Jika mengacu pada penolakan, mestinya nama saya masih ada di Bappeda,” tuturnya.

Tidak hanya dirinya, PNS yang senasib dengannya pun menuai masalah yang sama. Posisi mereka jadi membingungkan dan mau kerja dimana. Pasalnya, jika kembali ke kantor sebelumnya, nama mereka pernah dihapus dalam absensi.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Bima, Dr. Syamsuddin yang berusaha di temui di kantornya, tidak ada. Stafnya mengaku sudah keluar.

Melalui hanphone nya, Syamsuddin mengaku belum bisa memberikan keterangan, karena lagi mengantar tamu di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima. [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *