Rudi: Merpati tidak Jual ‘Tiket Fiktif’ untuk SPJ

Kota Bima, Kahaba.-  Distrik Merpati Bima kerap dimanfaatkan oleh sejumlah oknum pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bima, untuk mendapatkan salinan tiket (tiket fiktif). Selanjutnya, salinan tiket itu dipakai sebagai laporan (surat pertanggungjawaban, SPJ) fiktif melakukan perjalanan dinas luar daerah. Bagaimana tanggapan pihak Distrik Merpati Bima?

ilustrasi

ilustrasi

Direktur Merpati Bima, Rusdi mengatakan, pihak Merpati tidak bisa dimanfaatkan untuk hal-hal seperti itu. Secara institusi, Merpati tidak pernah melayani cara-cara seperti itu (menjual tiket fiktif) karena mengarah pada kerugian negara.

Jika saja pemanfaatan salinan tiket untuk SPJ perjalanan dinas fiktif terjadi di Merpati Bima,  Rudi menegaskan, tindakan itu merupakan pelanggaran berat dan perlu diberi sanksi tegas. “Apakah Pemerintah Kota (Pemkot) Bima membeli tiket di sini (Merpati Bima) atau tidak, kami tidak tahu. Kami tidak memperhatikan karena yang membeli tiket banyak,” ujarnya di Distrik Merpati Bima, Kamis (24/10/13).

Namun, katanya, jika saja nanti tim audit keuangan ingin cross-ceck mengenai data keberangkatan pegawai Pemkot Bima, pihak Merpati akan terbuka memberikan data. “Jadi, nanti akan ketahuan semua siapa yang berangkat dan tidak,” tandasnya.  “Intinya, Merpati tidak pernah melakukan itu, dan tidak pernah melayani pembelian salinan tiket untuk kepentingan SPJ,” tegas Rudi melanjutkan.

Dia mengaku baru menjabat Direktur Merpati di Bima sekitar bulan Mei 2013 lalu. Sehingga, tidak mengetahui apakah praktik pembelian salinan tiket itu sudah pernah dilakukan atau tidak. “Aturan institusi kami, jika saja menemukan praktik seperti ini dilakukan oknum karyawan Merpati, maka akan kami berikan sanksi tegas. Bahkan bisa kami pecat oknum karyawan tersebut,” tegas Rudi. [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *