Ketua SKB jadi Tersangka Kasus Keaksaraan Fungsional

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kasus dugaan penyelewengan anggaran program Keaksaraan Fungsional (KF) Tahun 2007, kini sedang ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Raba Bima. Kasus yang merugikan negara sekitar 296 juta itu, melibatkan Ketua Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Wilayah Kabupaten Bima H. Abidin.

Ilustrasi

Ilustrasi

Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Raba Bima, Indra Prana Citra, SH, mengatakan, kasus dugaan penyelewengan anggaran KF di bawah naungan Dinas Dikpora Kabupaten Bima, merupakan perkara yang tertunda sejak tahun 2008. “Tunggakan kasus dari tahun 2008. Sekarang kita mau naikan kasusnya,” katanya di Kejari Raba Bima, Jumat (01/11/13).

Kasus ini, jelas dia, melibatkan H. Abidin sebagai Ketua SKB Wilayah Kabupaten Bima yang telah ditetapkan tersangka. Untuk keterlibatan tersangka lain, pihaknya sedang mendalami karena tidak menutup kemungkinan dalam kasus itu hanya dilakukan H. Abidin.

Indra menerangkan, kasus itu mencuat karena adanya dugaan pemotongan dana program KF terhadap 200 PKBM di Kab Bima. Pemotongannya senilai Rp  1 juta per kelompok yang diduga dilakukan oleh H. Abidin.

Anggaran Program KF bersumber dari APBN senilai Rp500 juta, untuk 11 PKBM yang terdiri 200 kelompok. “Pada saat dana ini diserahkan ke PKBM langsung dilakukan pemotongan oleh tersangka di ruangannya, tanpa alasan jelas peruntukannya,” ungkap Indra.

Diakuinya, penuntasan kasusnya, pihak Kejari telah mengambil keterangan sejumlah saksi. Diantaranya saksi dari para Ketua PKBM, Dinas Dikpora Kabupaten Bima, dan pengurus SKB wilayah Bima.

Saat ini sedang dalam tahap pemberkasan. Meliputi penyitaan berkas-berkas dan barang-bukti (BB) pendukung lainnya. “Tersangka ini PNS, SK-nya guru SMA ditunjuk oleh Bupati untuk melaksanakan SKB,” kata Indra.

*YUDHA

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *