Proyek Pasar Tradisional Modern Terhambat Hujan

Kota Bima, Kahaba. Proyek pasar tradisional modern Kota Bima yang akan di bangun di kawasan pantai Ama Hami, Kelurahan Dara, sedikit terganggu. Pasalnya, hujan yang turun akhir–akhir menghambat pelaksanaan proyek tersebut.

Ilustrasi

Ilustrasi

Pelaksana Teknis Lapangan PT. Praja Astindo Perkasa, Ikra mengaku, proses pengerjaan cor cakar ayam atau pembuatan pondasi, karena hujan, praktis galian pondasi digenangi air.

“Kalau hujan seperti ini terus, pekerjaan tentu terhambat,” ujarnya, Jumat, 22 November 2013.

Kata dia, untuk pengecoran lubang yang dalamnya sekitar tiga meter itu harus dalam kondisi kering.

“Saat ini, sebelum mengecor pondasi, air yang ada dalam galian harus di sedot terlebih dahulu. Tentu, menyedot air yang ada cukup memakan waktu yang lama. Dan kondisi lubang untuk pengecoran harus benar-benar dalam kondisi kering,” tuturnya.

Diakuinya, kondisi semakin di perparah dengan lokasi pasar Tradisional Modern Kota Bima yang berada di pinggir laut. Tentu akan mengakibatkan intensitas air di dalam galian cukup banyak.

“Air di galian bukan hanya air hujan, tapi ada rembesan air laut juga,” ucapnya.

Karena jarang ada matahari, proses pengeringan cakar ayam juga akan terhambat. Bila kondisi mendung dan hujan, pengeringan juga akan memakan waktu lama.

“Kondisi cakar ayam harus bebar-benar kering baru bisa kami lanjutkan dengan pembuatan bantalan,” katanya lagi.

Di sisi lain, untuk kesiapan bahan seperti besi, plat baja pelapis lantai dan lainnya, sudah disiapkan semua.

“Alat kerja itu belum bisa dibawa ke lapangan karena faktor lokasi yang tidak memungkinkan,” paparnya..

Ditanya apa pekerjaan bisa selesai sesuai target selama 50 hari? Ikra menjawab, untuk saat ini belum bisa dipastikan, karena melihat kondisi cuaca yang tidak menentu.

*BIN | RT

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *