Aksi Mogok Kerja, Dokter Bima Tolak Kriminalisasi

Kota Bima, Kahaba – Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dokter  (dr. Dewa Ayu dan dr. Hendri Simanjuntak), yang telah di vonis sepuluh bulan penjara oleh hakim MA saat kasusnya di tingkat kasasi. Puluhan dokter Bima menggelar aksi solidaritas dan menolak kriminalisasi terhadap dokter seperti yang dialami dr. Ayu dkk.

Ilustrasi

Ilustrasi

Aksi long march yang berakhir di lapangan Pahlawan Raba, Rabu (27/11). Aksi ini diisi dengan kegiatan taffakur dan diskusi. Hari itu pun, dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bima juga menggelar aksi mogok kerja sehari untuk pelayanan praktek, baik pribadi maupun umum.

Pantauan Kahaba, puluhan dokter yang bertugas di RSUD Bima keluar sekitar pukul 08.00 Wita. Menggunakan baju kebesarannya, jas putih. Pada lengan kiri jas tersebut menggantung pita berwarna hitam, sebagai tanda berkabung atas kriminalisasi terhadap rekan seprofesi nya.

Tidak saja dokter yunior, bahkan beberapa dokter senior, seperti dr. Herta dan dr. Irfan juga ikut dalam aksi solidaritas tersebut. Mereka menyuarakan tolak hukuman yang dijatuhkan MA terhadap rekannya itu.

Perwakilan dokter Bima, dr. Akbar mengatakan, dokter bukanlah Tuhan yang tahu waktu manusia akan meninggal. Tetapi dokter disumpah untuk menjaga kehidupan itu dimulai. Dokter bekerja di dalam sistem, dan kadang pada sistem dokter juga tidak memiliki hak dan kewenangan yang mutlak.

Menurutnya, tidak ada dokter yang berniat dan ingin menghilangkan nyawa pasiennya. Tetapi nyawa adalah milik Yang Maha Kuasa. Dokter hanya berusaha menolong sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya.

“Kami juga abdi masyarakat dan abdi negara. Juga kenapa selama ini kenapa kami selalu disalahkan, padahal kami juga ikut dirugikan,” tegasnya.

Kata dia, kematian salah satu pasien yang dituding atas kesalahan dokter, adalah kesalahan dan kecelakaan sejarah. Padahal dari hasil visum dan keterangan medis lain, pasien tersebut meninggal karena hal lain, bukan kerana malapraktik atau kesalahan sepenuhnya pada dokter yang menangani.

Apa saja agenda aksi solidaritas? diakui Akbar, aksi solidaritas tidak saja di Bima tetapi diseluruh Indonesia, walaupun temanya aksi mogok, namun dokter juga memiliki perasaan. Untuk pasien yang emergency masih akan ditangani. Namun untuk tempat praktek seluruhnya dalam satu hari akan ditutup, sebagai bentuk solidaritas.

*DEDY

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. ababar

    Terima kasih banyak atas partisipasi semua pihak dalam aksi Solidaritas tersebut. Termasuk pihak Kepolisian Kota Bima yg sudah mengawal kami, teman2 media yg menjadi penyambung lidah, dan masyarakat Bima khususnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *