Dishutbun Getol Laksanakan Reboisasi

Kota Bima, Kahaba.- Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kota Bima, Ir.H. Zulkifli, M.Ap mengungkapkan, pemanasan global atau yang dikenal Global warming merupakan ancaman bagi keselamatan bumi. Perubahan iklim, efek rumah kaca dan hal-hal lain yang bisa  mengancam keselamatan Bumi itu harus segera diantisipasi.

Ilustrasi

Ilustrasi

“Dalam menangani ancaman tersebut, Dishutbun Kota Bima setiap hari melakukan reboisasi,” ujarnya pada Kahaba Jum’at (27/12/13) di ruang kerjanya.

Ia menjelaskan, upaya reboisasi yang dilakukan, selain mencegah pemanasan global, juga dimaksudkan sebagai kegiatan konservasi dengan  harapan memperkecil bencana erosi atau pengikisan permukaan bumi.

“Sejauh ini proses reboisasi yang sudah kami lakukan sudah mencapai 50 persen. Hal ini karena kerja sama dan koordinasi lintas instansi dan peran serta memasyarakat,” jelasnya.

Dalam pengadaan bibit, lanjutnya. Dibebankan pada APBD dan APBN. Pihaknya pun memiliki  stock bibit tersendiri yang sudah dipotkan di wilayah Kelurahan Jatibaru, Kecamatan Asakota. Kata dia, jenis bibit yang di tanam bervariatif jenisnya. Ada Jati putih, jati super, mahoni, trembesi serta jenis tanaman buah-buahan seperti mangga dan sawo. “Tanaman tersebut langsung dibagikan kepada petani dan juga sejumlah sekolah yang ada di Kota Bima,” ungkapnya..

Disampaikannya pula, hampir setiap tahun program reboisasi ini dilakukan. Dan pada tahun 2011 dan tahun 2012 lalu, Dishutbun meraih berbagai penghargaan dan meraih juara pertama di lomba satu miliar pohon.

“Dishutbun mewakili Provinsi NTB untuk mengikuti lomba di tingkat nasional. Dan di tahun 2014 nanti, kami berencana akan membangun embung di kelurahan Kolo dan Matakando untuk mendukung program reboisasi selanjutnya,” tutur Julkifli.

*AMI

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *