Hama Tikus Resahkan Warga dan Petani

Kota Bima, Kahaba – Jumlah hama tikus kian mengkhawatirkan warga dan petani Kota Bima. Tidak saja menyerang di lahan pertanian, tikus kini menggerogoti hasil panen petani di dalam rumah. Pun dirasakan warga, semakin banyaknya jumlah binatang pengerat ini mulai mengganggu kenyamanan.

Salah seorang petani, Mashula (40) mengaku harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pembuatan lumbung khusus untuk mengantisipasi hama tikus. Sebelumnya, menyimpan biasa diatas rumah panggung miliknya, tidak pernah digerogoti hama tikus. Tetapi kini, semenjak hama tikus yang jumlahnya banyak, penyimpanan hasil panennya terus digerogoti. “Bahkan satu malam, hama tikus mampu menghabisi 20 kg hasil panen,” ujarnya.

Ilustrasi

Ilustrasi

Menyiasati itu, dirinya kini terpaksa memasang jeruji dari kawat yang ukuran kecil. Mulai dari bawah sampai samping dengan ketinggian dua meter. Itu pun, masih mampu ditembus setelah hama tikus masuk melalui atap rumah. Terpaksa tempat penyimpanan padi ditutup sepenuhnya untuk menghindari masuknya tikus.

Demikian pula dirasakan Hasan alias Pua, hama tikus sangat meresahkan petani. Bukannya merusak padi saat proses berbuah, tetapi malah memakan hasil panen yang sudah tersimpan di rumah. Berbagai cara telah dilakukan, seperti membasminya dengan racun. Yang terjadi malah hama tikus semakin banyak.

Tidak saja mengancam hasil pertanian, menurutnya juga menganggu kenyamanan warga. Terutama ancaman penyakit hama tikus yang jumlahnya kian menakutkan. Apalagi kini hama tikus tidak lagi berkembang biak jauh dari pemukiman tetapi langsung dalam areal rumah warga. “Cara mereka berkembang biak yakni melubangi pondasi,” terangnya, Selasa (14/1).

Ia pun berharap Pemerintah secepatnya dapat mengatasi hama tikus. “Keberadaan hama tikus jangan dianggap sepele,” katanya.

*DEDY

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *