Klarifikasi Data GB dan GK, Dikes akan Dipanggil

Kabupaten Bima, Kahaba.- Untuk menanyakan kepastian data jumlah Balita penderita gizi buruk (GB) dan gizi kurang (GK), Komisi IV DPRD Kabupaten Bima akan memanggil pejabat Dinas kesehatan (Dikes) Kabupaten Bima.  Sebelumnya, dalam laporan komisi, ditemukan data GB dan GK yang dirilis Dikes dinilai amburadul alias data basi.

Ilustrasi

Ilustrasi

Ketua komisi IV DPRD Kabupaten Bima, Ahmad, SP, mengatakan, data jumlah GB dan GK tidak sesuai fakta. Itu berdasarkan temuan Dewan saat memantau langsung di lapangan.

Dalam pemantauannya, Dewan menemukan data GB dan GK yang dilansir Dikes jauh berbeda dengan fakta di lapangan. Jumlahnya hanya satu, tetapi dalam data yang dirilis pihak Dikes terdapat hingga puluhan penderita GB dan GK. “Kita akan panggil mereka, jangan sajikan data lama dong,” ujar Ahmad.

Ahmad mengisyaratkan, akan ketat mengawasi realisasi anggaran yang dikucurkan tahun ini untuk menanggulangi GB dan GK senilai Rp 1,5 miliar. Jangan sampai anggaran itu tidak sebanding dengan keberhasilan program yang dikerjakan, atau menyajikan data basi hanya untuk mendapatkan kucuran anggaran.

“Kalau tidak ada pengaruh tentunya patut dipertanyakan. Apalagi sudah dianggarkan dana yang besar, tidak saja dari Pemerintah Dearah (Pemda) tetapi juga dari Pemerintah Provinsi dan Pusat,” tandas politisi PBB Kabupaten Bima ini.

Diharapkannya, anggaran tersebut dapat dimaksimalkan sesuai program yang diusulkan. Tidak saja memberikan makanan bergizi tambahan pada Balita yang menderita GB dan GK, tetapi juga memberikan pengatahuan pada ibu-ibu tentang kebutuhan gizi Balita. “Dan ini juga menjadi pendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya asupan gizi bagi Balita,” kata Ahmad.

Selain itu, lanjut Ahmad, masalah sosial budaya masyarakat dan tingkat ekonomi juga harus diperhatikan untuk mengatasi GB dan GK. Karena bila terus diberikan gizi dari anggaran yang disediakan tanpa disertai adanya bantuan peningkatan ekonomi, maka semua itu akan percuma. “Untuk menuntaskan GB dan GK, maka pemberian makanan bergizi, pengetahuan, pola hidup, dan tingkat ekonomi harus sejalan,” terang Ahmad.

*DEDY

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *