Dewan Mesum, Degradesi Moral yang Akut

Kabupaten Bima, Kahaba.- Oknum Anggota DPRD Kabupaten Bima yang diduga mesum dengan Wanita Idaman Lain (WIL) di sebuah kamar hotel, menambah catatan buruk moral seorang pejabat.

Dosen STKIP Taman Siswa Bima, Asrul Raman MPd.

Dosen STKIP Taman Siswa Bima, Asrul Raman MPd.

Sikap yang mestinya diteladani, justru sangat tidak baik untuk dijadikan panutan. Prilaku oknum yang merupakan anggota Komisi I DPRD Kabupaten Bima itu dinilai degradasi moral pejabat yang sudah akut.

“Prilaku ini telah mencederai integitas lembaga legislatif. Bentuk moral yang mengalami degradasi akut,’ nilai Dosen STKIP Taman Siswa Bima, Asrul Raman, M.Pd itu.

Kata dia, menjadi pejabat itu tidaklah mudah. Terlebih seorang dewan yang dipercaya untuk menjadi wakil rakyat. Karena menjadi pejabat itu, melekat aturan dan berprilaku yang benar dan haus ditaati.

“Pejabat juga tidak hanya melegitimasi materi wewenang, subyek kekuasaan, dan eliter saja, tapi juga harus memberikan legitimasi religious dan tokoh panutan,” jelasnya Kandidat Magister Prancis tersebut.

Secara pribadi pun ia mendukung rajia yang dilakukan Sat Pol PP Kota Bima itu. Apalagi bisa menjaring pejabat yang berbuat maksiat. “Bila perlu, rajia harus rutin. Tidak menjelang puasa saja,” sarannya.

Selain rajia, pengawasan yang ketat untuk rumah persinggahan, losmen, maupun hotel yang ada juga ditingkatkan. Tidak hanya mengeluarkan surat edaran tentang biaya pajak semata, pun etika operasionalnya harus diawasi.

“Inilah yang saya maksud dengan legitimasi religius seorang penguasa, ada pagar api yang jelas antara yang baik dan buruk demi kemajuan daerah,” pungkasnya.

Menyikapi hal itu, lanjutnya, Lembaga Kehormatan DPRD Kabupaten Bima harus bertindak tegas dan mengevaluasi. Jika terbukti bersalah melanggar etika dan moralitas, maka harus diberikan sanksi tegas.

*BIN

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *