Ekawana Diminta Angkat Kaki dari Bima

Kabupaten Bima, Kahaba.- Menilai Kapolres Bima Kabupaten AKBP IGPG. Ekawana Prasta, SIK gagal menangani sejumlah kasus di Bima, belasan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah, mendesak Ekawana segera angkat kaki dari Bima.

Ilustrasi

Ilustrasi

Kamis (26/6), mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIH Bima menggelar aksi di depan kantor Polres Bima Kabupaten. Mereka menyoroti kejahatan akhir – akhir ini meningkat.

Namun, jumlah kasus tersebut terjadi tidak berbanding lurus dengan proses penegakan hukum. Prihatin dengan kondisi itu, mahasiswa memberikan kritikan pedas terhadap lembaga yang bermoto melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat itu.

Menurut mahasiswa, Ekawana dinilai gagal menjadi Kepala Polisi untuk masyarakat. Terbukti dari banyaknya kasus kejahatan yang terjadi, hanya sedikit yang mampu diungkap dan dituntaskan Kepolisian. “Apa peran Kepolisian selama ini,” sorot perwakilan massa, M. Tohir.

Dalam orasinya, Tohir juga menyebutkan sederet kasus yang marak di Bima seperti, togel, peredaran Miras, Curanmor, kekerasan, pembunuhan dan narkoba dinilai semakin meningkat.

Menurut dia, masyarakat di Bima sudah tidak merasa aman dengan adanya kejahatan yang merajalela. Ironisnya lagi, meski beberapa kali anggota polisi menjadi korban kejahatan, tetapi belum mampu diungkap siapa pelakunya. “Kalau Polisi saja tidak aman, bagaimana menjamin keamanan masyarakat sipil,” tegasnya.

Sederet kasus-kasus tersebut, menjadi cerminan gagalnya Polres Bima Kabupaten gagal menegakkan hukum di Bima. Untuk itu, pihaknya mendesak agar Ekawana segera mundur dari jabatan dan secara terhormat angkat kaki dari Kabupaten Bima.

“Walaupun Bapak ditugaskan atasan untuk menjadi Kapolres di Bima, tetapi masyarakat punya hak untuk menolak jika sejuta kasus hukum tak mampu diselesaikan,” ujarnya.

*BIN

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *