Bentrok Nisa dan Cenggu, Satu Tewas

Kabupaten Bima, Kahaba.- Desa Cenggu Kecamatan Belo dan Desa Nisa Kecamatan Woha Kabupaten Bima, Minggu (3/8) kembali terlibat bentrok. Akibatnya, warga Desa Cenggu, Ardiansyah, tewas setelah tertembus timah panas senjata api rakitan yang mengenai bagian rusuk kirinya.

Ardiansyah, warga Desa Cenggu tewas tertembak saat bentrok. Foto: Bin

Ardiansyah, warga Desa Cenggu tewas tertembak saat bentrok. Foto: Bin

Selain Ardiansyah, dua warga Desa Cenggu lain yakni Nasarudin (31) dan Syaiful Anas (33) juga mengalami luka tembak. Sementara tiga unit rumah hangus dalam bentrokan tersebut.

Sekitar pukul 03.00 WITA, warga Desa Cenggu yang menjaga Desanya diserang warga Desa Nisa yang dilengkapi senpi rakitan dan senjata tajam (sajam). Pernyerangan dilakukan dari dua arah, satu kelompok dari arah utara dan satu lagi dari arah selatan. Bentrokan tak bisa dihindari.

Akibat bentrok itu, warga Cenggu Ardiansyah roboh setelah tertembus peluru di bagian rusuk kiri. Oleh rekannya, korban kemudian dibawa ke Puskesmas Belo untuk dilanjutkan ke RSUD Bima. Namun saat dalam perjalanan, Ardiansyah menghembuskan nafasnya terakhir.

Disaat yang bersamaan, warga lainnya Syaiful Anas (33) juga terkena tembakan di bagian paha kanan. Korban langsung menyelamatkan diri ke rumah kakaknya yang berjarak 200 meter. Karena luka yang dialami cukup parah, ia juga segera dilarikan ke RSUD Bima.

Sementara itu, setelah berhasil merangsek masuk warga Desa Nisa membakar tiga unit rumah warga di RT 2 RW 1 masing-masing milik Jaminul Islam SE, Ismail Idris dan Azhar HM Said. Tragisnya dua dari tiga unit rumah ini baru dibangun setelah dibakar dalam insiden bentrok tahun sebelumnya.

Saat aksi pembakaran tersebut, seorang warga Nasarudin (31) juga terkena tembakan di bagian tangan kanan, saat memadamkan api yang melalap rumah warga. “Untungnya Nasarudin tutup pakai tangan kiri, sehingga peluru tersangkur ditulang,” ujar Burhan, warga Cenggu yang mengantar.

Syaiful Anas, yang ditemui setelah operasi bedah mengatakan dirinya sedang siaga menyusul informasi penyerangan warga Desa Nisa. Tiba-tiba saja celana saya terasa basah. Setelah diperiksa rupanya dari paha sudah mengucur darah segar. “Tidak terasa apa-apa, kayak angin, saya langsung lari pulang,” ujarnya.

*BIN

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *