Menikah Dini, Siswa SMP Tak Ikut UN Meningkat

Bima, Kahaba.- Penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) tahun 2012 ini meninggalkan catatan yang harus menjadi perhatian semua pihak. Meningkatnya angka ketidakhadiran peserta UN pada tahun ini sangat mencolok, terlebih lagi terdapat indikasi ketidakhadiran karena faktor status siswa/siswi itu ternyata telah menikah. Yang lebih memprihatinkan lagi, masalah ini terjadi baik di tingkat SMA maupun SMP. Dari data yang berhasil ditelusuri, jumlahnya sendiri tidaklah sedikit. Namun, sorotan khusus lebih mengarah ketidakhadiran UN di bangku SMP.

Panitia UN Kabupaten Bima, melansir sebanyak 149 siswa tidak hadir pada UN SMP/MTS pada tahun ini, 21 diantaranya tercatat telah menikah. Dibandingkan tahun lalu, angka ketidakhadiran UN terlihat meningkat, demikian pula halnya dengan siswa yang berstatus menikah. Siswa perempuan ternyata mendominasi jumlah ketidakhadiran peserta UN yang terdaftar berstatus tak lajang lagi itu.

Grafik Persentase Ketidakhadiran UN SMP Kabupaten Bima (Data: Panitia UN Kab. Bima)

“Kita tidak tahu alasannya mereka menikah, namun yang pasti saat mendaftar sebagai peserta UN Desember tahun 2011. Kemudian, sekitar Desember akhir hingga Februari tahun 2012, mereka  menikah  dan akhirnya tak bisa mengikuti UN tahun 2012 ini,” beber Ketua Panitia UN Kabupaten Bima, Drs. Basyirun, MPd, siang tadi (26/04).

Lanjutnya, jumlah tertinggi siswa menikah sebelum UN berada di SMP 2 Belo sebanyak 7 orang, sisanya berasal dari sekolah lain di Kabupaten Bima. Kemudian, siswa yang tak hadir 149 orang, hanya satu orang yang dinyatakan sakit dan selebihnya absen tanpa keterangan. Secara keseluruhan, siswa tidak hadir paling banyak berasal dari SMP 2 Belo yakni 35 orang, lalu diikuti oleh SMP Terbuka Sape sebanyak 13 siswa. Dan sisanya tersebar di sejumlah sekolah lain. “Dari sekian banyak ini, hanya siswa sakit saja yang bisa mengikuti ujian susulan pada tanggal 30 April sampai 4 Mei,” terangnya.

Para pengambil kebijakan serta stakeholder terkait wajib menyikapi fenomena nikah dini. Semakin terkikisnya nilai agama dan kearifan lokal adalah masalah pelik. Masyarakat dan pemerintah perlu berhati-hati pada laju modernitas atau pergaulan bebas. Sistem pendidikan di tingkat SMP-SMA, di lain pihak juga harus dievalusi. Dengan demikian, aspek agama dan moralitas perlu mendapat porsi lebih berikut metode belajar yang lebih efektif.  [BS/BQ/AA]

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Mungkin mereka berpikir, dari pada maksiat terus terusan lebih nikah saja. Tapi sebenarnya yang paling berperang dalam hal ini adalah orang tua. kini orang tua telalu cuek dengan pergaulan anak2 mereka. tak usalah mereka nasahati, bertanya atau melarang kemana pergi tak pernah.

    • meningkatnya pernikahan dini ini bukan persoalan biasa dalam kehidupan sosial masyarakat karena fenomena nikah dini adalah merupakan firus sosial, yang dapat mempengaruhi integritas keumatan yang selama ini berpondasikan nilai serta norma, jika fenomena tersebut dibiarkan berkembang begitu saja tampa ada penyelamatan terhadap generasi muda maka regenerasi bangsa ini akan menjadi tumbal peradaban global.oleh karena itu pemerintah dan seluruh komponen maupun lembaga2 pendidikan baik formal maupun non formal agar lebih proaktif dalam menangani fenomena nikah dini saat ini dan pemerintah sebagai penggerak utama wajib menyikapinya dengan berbagai bentuk kebijakan yang dapat meminimalisir pengaruh modernisasi global yang berkembang. eksistensi lembaga pendidikan yang berkualitas harus lebih di tingkatkan, evaluasi terhadap perkembangan baik eksistensi lebih2 esensi pendidikan juga harus lebih di tumbuh kembangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *