Dua Mahasiswa Dikeroyok

Kota Bima, Kahaba,- Saat melintas di Kelurahan Kumbe Kota Bima, dua orang mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Bima, masing-masing Jaidun (23) asal Desa Banggo Kabupaten Dompu dan Ramadan (23) asal Kelurahan Nungga Kota Bima dikeroyok sekelompok pemuda tak dikenal, Sabtu (9/8).

Ilustrasi

Ilustrasi

Akibat kejadian itu, korban Ramadan mengalami luka tusuk pada bagian lengan kiri dan memar pada bagian muka. Sementara Jaidun mengalami luka lebam pada bagian mata sebelah kiri dan memar pada bagian mulut.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 01.00 wita dini hari di Jalan Ir Soetami Lintas Sape-Bima Lingkungan Kecewa RT 12 RW 04 Kelurahan Kumbe Kota Bima. Hingga saat ini, belum diketahui pasti penyebab kejadian pengeroyokan itu. Namun informasi yang diperoleh kejadian itu diduga dipicu dendam lama.

Keterangan yang dihimpun, kejadian berawal saat korban melintasi Kelurahan Kumbe hendak menuju Kelurahan Nungga. Mereka berbonceng tiga menggunakan sepeda motor bersama rekannya, Ashari asal Desa Bajo Pulo Kabupaten Bima.

Saat melintas, tiba-tiba sekelompok pemuda tidak dikenal menghadang korban. Tanpa basa-basi dan menanyakan sesuatu, salah satu dari pelaku langsung memukuli Jaidun yang mengendarai sepeda motor. Pemukulan pun berlanjut pengeroyokan melibatkan sejumlah pelaku lainnya.

Akibatnya, Ramadan korban lainnya terpaksa mendapatkan perawatan medis karena mengalami luka tusuk pada bagian lengan sebelah kiri. Sementara itu, usai mengeroyok korban para pelaku langsung kabur dan hingga kini masih dalam penyelidikan Kepolisian.

“Kasus itu saat ini masih ditangani Polsek Rasanae Timur karena TKP nya disana. Laporan terakhir, pelaku informasinya masih dalam lidik,” jelas Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bima Kota, Iptu Didik Harianto, SH.

*ERDE

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *