FKN Bima Digelar, PKL Digusur

Kota Bima, Kahaba.- Menyambut Festival Keraton Nusantara (FKN) September mendatang, sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada disekitar Museum ASI akhirnya digusur. Solusinya, para PKL dipindahkan ke TPI Kelurahan Tanjung.

Para PKL sedang membongkar tempat jualan di sekitar Museum ASI Bima. Foto: Bin

Para PKL sedang membongkar tempat jualan di sekitar Museum ASI Bima. Foto: Bin

“Masalah PKL kami sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bima, hari ini ada sebagian yang telah membongkar tempat jualannya, tapi masih ada sebagian yang belum,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bima Drs. Syafruddin HA, Rabu (27/8).

Kata dia, keberadaan PKL tepat di arena penyelenggaran FKN. Karena cukup mengganggu dan menyebabkan ruas jalan sempit, maka pihaknya meminta kepada Pemerintah Kota untuk membongkar sementara.

Di tempat berbeda, salah seorang PKL, Ahmad mengaku pihaknya sudah menerima surat dari Pemerintah Kota Bima. Isinya meminta agar milik mereka dibongkar selama 1X24 jam, dan pindah di TPI Kelurahan Tanjung.

“Kita bukannya tidak mau ke TPI, tapi kondisi jalannya yang masih rusak dan tidak strategis. Disana sepi, dan kami pastikan tidak ada pembeli,” ujarnya.

Ia pun mengaku, besama dengan PKL lain sudah ke kantor Pemerintah Kota Bima, menanyakan solusi lain, selain di TPI. “Kami hanya mendapat jawaban nanti akan dikabarkan lagi,” ucapnya.

Sementara itu, Plt. Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Bima, Ihya Ghazali S.Sos saat dimintai keterangan mengaku PKL diarahkan ke TPI tidak hanya untuk FKN, tapi selamanya.

“Dari dulu memang PKL di sekitar Museum diminta untuk dibongkar, tidak tidak pernah diindahkan. Karena keberadaannya mengganggu estetika penataan Kota,” jelasnya.

Kata dia, yang belum membongkar akan diberikan waktu sehari lagi, jika tidak maka akan dibongkar paksa oleh Satuan Pol PP Kota Bima. “Kami mohon pengertian dari PKL dan kebijaksanaan dari seluruh masyarakat Kota Bima,” pintanya.

*BIN

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *