Enam Orang Anak Kesulitan Bernapas Karena Gas Airmata

Kota Bima, Kahaba.- Gas airmata yang ditembakkan polisi untuk membubarkan massa yang hendak melampiaskan kemarahannya pada pelaku curanmor di Kelurahan Rabangodu Utara (Baca. Pelaku Curanmor Dihakimi Massa), Selasa (2/9) berdampak buruk bagi anak – anak disekitarnya.

Seorang anak korban Gas air mata saat digendong bapaknya. Foto: Bin

Seorang anak korban Gas air mata saat digendong bapaknya. Foto: Bin

Akibat asap itu, sekitar enam orang anak yang usianya dibawah lima tahun kesulitan bernapas. Sesak dan terus merintih perih pada bagian mata. Orang tua anak-anak tersebut pun tidak bisa berbuat banyak, hanya menangis dan mencaci maki polisi.

Mereka yang berada didalam rumah pun lari berhamburan keluar dan menghindari gas air mata yang terus menyebar. Berteriak dan menangis. Anak-anak digendong orang tuanya dan berlari hingga ke sawah.

Cara polisi membubarkan massa, dinilai berlebihan. Anak-anak pun justru jadi korban, lantaran menyelamatkan maling motor yang selalu meresahkan warga.

“Anak saya ini sedang tidur, tiba – tiba menangis karena tidak sanggup menahan perih dibagian mata dan susah bernapas,” keluh Sudirman, warga setempat.

Sejumlah anak – anak lain juga mengalami hal yang sama. Jika tidak segera menghindar dan membasuhnya dengan air, maka akan mengancam keselamatannya.

“Jangankan anak kecil, orang dewasa saja bisa mati jika mata perih dan sesak napas seperti ini. Kalau anak kami mati, mau polisi – polisi itu bertanggungjawab?,” tanyanya.

Warga yang geram pun akhirnya melapiaskan kemarahan dengan melempar mobil dalmas polisi yang melintas. Sempat terjadi ketegangan, dan polisi mengeluarkan tembakan peringatan.

Hingga berita ini diturunkan, tak satupun pejabatn Polres Bima Kota yang dihubungi untuk dimintai keterangan.

*BIN

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *