Rif Dirtyblues: Blues itu Tentang Rasa dan Apa Adanya

Musik, Kahaba.- Orang mungkin tidak banyak yang mengenalnya, mendengar nama Rif Dirtyblues pun mungkin terasa asing ditelinga. Tapi tidak untuk pecinta musik blues. Pria kelahiran Bima itu ternyata cukup terkenal dikalangan musisi blues, khususnya di Kota Jojga.

Syarif Hidayatullah / Rif

Syarif Hidayatullah / Rif

Kahaba sepekan lalu sempat bertemu dengan pria yang punya nama asli Syarif Hidayatullah, berbincang panjang sembari seruput kopi hangat di Lapangan Serasuba Kota Bima. Santai, dan Rif pun bercerita panjang tentang dunia musiknya.

Awalnya, ia memang tidak berpikir akan serius bermain genre blues, karena ia senang dengan All Genre. Namun berkembangnya waktu, proses pencarian karakter bermain musik mulai ditapakinya, beberapa kali ngeband di Kota pelajar itu, namun tak berumur panjang.

Sekitar tahun 2006, Alumni SMAN 1 Kota Bima itu mengaku bertemu seorang kawan dan mengajak ke Studio Musik, MJ Studio, di Jogja. Melihat kemampuannya bermain gitar, pemilik Studio Musik kemudian ajak mengisi sound gitar untuk sebuah lagu dan record.

“Nah, kebetulan disitu ada Nico Ringger, yang dulu pernah bersama Band Rock Indonesia Power Slaves, kemudian pulang ke Jogja, menyimak dengan baik detail isi gitar yang saya mainin dan bilang, ‘maennya lo itu bukan di All Gendre, tapi nada karakternya disini’,” ujarnya meniru kalimat Nico.

Ternyata, kalimat Nico membuatnya berpikir lama. Dan benar saja, setelah ia berdiskusi dan banyak bertanya, Rif pun merasa nyaman di blues. “Itu sekitar Tahun 2008, dan Nico banyak ngajarin saya tentang blues. Bukan ngajarin tentang tekhnik dan skill, tapi diajarkan tentang rasa. Karena blues itu rasa,” ujarnya.

Dan terbukti, lanjut pria yang berusia 27 Tahun itu, ketika ia bermain blues dengan apa adanya, dengan bebas dan yang dirasakan, tekhnik itu akan ditemui sendiri. “Satu hal lagi di blues itu, mengajarkan sesorang untuk jujur, menyikapi perasaan dengan cara dan ekspresi sendiri, tiada batasan, semua diungkap dengan apa adanya,” jelasnya.

RIF Rif juga berpendapat, blues itu simpelnya teman cerita, teman bicara. Ketika ada hal-hal yang banyak orang tahu, dan dirinya bercerita lewat musik blues. “Karena blues itu bukan tradisi Indonesia, tapi Barat. Tapi buat saya, blues sudah masuk ke gaya hidup,” tuturnya.

Setelah fokus bermusik dengan genre blues, seiring waktu karir bermusiknya pun menanjak. Sembari kuliah jurusan S1 Psikologi disalah satu Universitas Jogja, Rif bisa membagi waktu dengan baik antara kuliah dengan musik. Semua disesuaikan dengan baik, jadwal manggung dan berbagai tawaran pun dinikmatinya.

“Tempat maen sudah merambah kota kota besar bang, seperti di Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah. Sampai saat ini pun sering terima tawaran, tapi saya masih fokus untuk bikin album Solo,” kata Rif dengan sedikit malu.

Bicara album, pria yang kini melanjutkan studi Magister Profesi Psikologi Klinis Jojga itu mengaku dulu banyak merilis album bersama teman-teman Band indienya. Karena sudah fokus ke Solo karir, ia baru membuat satu album solo, Feel.

“Album saya, Feel, tidak diproduksi secara massal, hanya beberapa puluh kopi, Unlimited. Album itu dirilis Tahun 2014, jumlahnya ada delapan lagu, seperti Belum Terlambat, Dira, Lagi Bosan, Bingung, Esok Masih Ada Blues, dan Lonely Man,” sebutnya beberapa lagu di Album itu.

Lanjut Rif yang malam itu mengenakan kemeja putih, kerjain album itu semua diurus sendiri. Materinya, berdasarkan pengalaman pribadi, yang dilihat dan dirasa. “Dalam waktu dekat pun, saya berencana bikin mini album Bima. Namun tetap bergendre blues atau gendre delta blues,” katanya.

RIF 5Rif pun kini telah memiliki efek gitar sendiri dan laku dijual dipasaran. Awalnya, ia mengaku diajak teman, kenalan dengan orang yang punya efek gitar. Kemudian diajak ke perkumpulan gitaris Jogja. Kebetulan saat itu lagi bahas efek Trooper, efek lokal Indonesia.

Setelah ia demo gitar menggunakan efek tersebut, beberapa hari kemudian empunya janjikan bikin efek. Alasannya, setelah ia demo banyak yang tanya tentang permainannya dengan efek tersebut. “Efek itu seri Screamer. Itu tahun 2011, di efek seri tersebut juga tertulis nama saya,” terangnya.

Diakhir ceritanya, Rif tetap berprinsip untuk tidak takut bermain musik yang berbeda, bermusik dengan apa adanya. “Saya tidak perduli orang suka dan tidak suka dengan musik yang saya mainkan, tapi saya coba sampaikan ekspresi saya tentang jiwa dan rasa,” tambahnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *