Para Pakar Bahas Pengembangan Lahan Kering Kabupaten Bima

Kabupaten Bima, Kahaba.- Para pakar dari berbagai disiplin ilmu bidang pertanian yang bergabung dalam wadah Forum Komunikasi Profesor Riset (FKPR) Selasa (16/9/14) menggelar Workshop Pengembangan Lahan Kering Iklim Kering di Hotel Marina. Pertemuan tersebut secara khusus melakukan evaluasi dan penyusunan rencana tindak lanjut.

Workshop pengembangan lahan kering. Foto: Hum

Workshop pengembangan lahan kering. Foto: Hum

Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Bima M. Chandra Kusuma, AP lewat rilisnya mengatakan, workshop tersebut dipandu DR. Ali Jamil, Kepala balai Penelitian Tanah Balitbang Kementerian Pertanian RI tersebut, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Bima Ir. Indra Jaya memaparkan Arah dan strategi pengembangan lahan kering di Kabupaten  Bima.

Menurut Indra, Bupati Bima memiliki komitmen penuh bagi pengembangan lahan kering mengingat potensinya cukup besar untuk dikembangkan, dan selama ini barui sebagian kecil yang telah dimanfaatkan. Dari sisi anggaran, pemerintah daerah telah mengalokasikan  pada APBD  dan dana tugas pembanguan (TP) bagi pengembangan lahan kering. Tahun anggaran  2014, telah dibangun 12 unit DAM parit.

Dalam bidang pembangunan, tantangan saat ini adalah mesih tingginya  angka kemiskinan dan pengangguran. Dari aspek penanaman modal, minat investor untuk melakukan penanaman modal di kabupaten Bima tergolong tinggi, namun kendalanya ada pada jaminan keamanan dalam investasi”. Inilah yang menjadi tantangan pembangunan di kabupaten Bima,” ujarnya.

Terkait pengembangan lahan kering, Indra jaya mengaku, banyak dana yang dikeluarkan untuk  pengembangan peternakan dan pertanian namunhasilnya belum optimal. Kajian ini diharapkan dapat memberikan solusi akan perlunya koordinasi yang lebih baik antar instansi terkait.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum Komunikasi Profesor Riset (FKPR) Prof. DR, Irsal Las mengatakan, tahap awal pengembangan lahan kering di kabupaten Bima mencapai 650 ha dan sudah ada komitmen dengan para pemangku kepentingan. Pendekatan yang ditempuh adalah multi disiplin yang dalam pendekatannya mengarah ke subsector.

“Untuk mewujudkan upaya ini, maka yang dilakukan adalah pendekatan kawasan. Oleh karena itu, Bappeda kabupaten Bima diharapkan dapat bekerjasama  dengan FKPR,” katanya.

Sementara itu DR. Erna Suryani pada sesi diskusi mengatakan, Pemerintah daerah sudah membangun DAM parit dan embung, pertanyaannya adalah sejauh mana pemanfaatan  infrastruktur tersebut dalam menunjang pengembangan lahan kering saat ini. Hal ini penting untuk diperhatikan karena akan terkait dengan replikasi atau  pengembangan Program.

Karena itu, sesuai  arahan Sekjen Kementerian Pertanian dalam Rencana Kerja Konservasi lahan (RKKL) tahun 2015 harus ada dana pendamping 30 persen untuk pengembangan kawasan”. Urainya.

Selanjutnya, Kepala Balai Penelitian Tanaman Serat mengatakan, tantangan pertama dalam pengembangan lahan adalah komoditas yang dominan masih berupa pangan/padi palawija. Ke depan tidak demikian karena komoditi pangan padi/palawija mengalami kendala pada aspek pemasaran dan tidak semua lahan pertanian bisa diari. Bagi lahan yang kesulitan air itu yang perlu dipikirkan.

Saat ini peta potensi wilayah sudah ada dan ini berarti bahwa akan banyak kesempatan untuk dikembangkan baik dalam Lingkup litbang maupun untuk pengembangan dengan Dirjen lain,” urainya.

*Bin/Hum

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *