Lahan Kering, Tiga Bulan Warga Konsumsi Umbi

Kabupaten Bima, Kahaba.- Musim kemarau panjang di Kabupaten Bima berdampak pada besar bagi masyarakat empat dusun Desa Karampi Kecamatan Langgudu. Lahan yang kering menyebabkan krisis pangan dan warga harus mengkonsumsi umbi-umbian.

Ilustrasi

Ilustrasi

Sudah tiga bulan lahan di empat Dusun tersebut tak bisa ditanami apa-apa. Akibatnya, selama itu warga tidak memiliki stok beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Kondisi itu diperparah dengan lokasi Desa Karampi yang terpencil dan sangat jauh dari pusat Ibukota kecamatan.

Jarak itu, praktis membuat desa yang dihuni sekitar 700 warga itu kesulitan mendapatkan pasokan beras. Apalagi mereka rata-rata warga tidak mampu karena sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Kepala Dusun Nanga Ni’u Desa Karampi, Kamsu Muhammad mengaku, sudah tiga bulan warganya hanya makan umbi-umbian yang diambil dari gunung. Karena stok beras hanya cukup memenuhi kebutuhan beberapa minggu awal memasuki musim kemarau.

“Tidak ada pilihan lain bagi kami kecuali makan umbi-umbian saja untuk bertahan hidup. Mau beli beras masalahnya harus menyeberang lautan lagi dan harganya mahal bagi kami,” ungkapnya.

Kondisi yang sama juga dialami warga tiga dusun lainnya, yakni Dusun Amba Na’e, Karampi dan Sampali. Warga tak mampu berbuat banyak untuk mengatasi persoalan krisis pangan, kecuali berharap bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bima.

“Semua warga yang menjadi nelayan tidak melaut lagi, mereka harus mencari umbi-umbian setiap hari di gunung terdekat,” katanya.

Kalisom, salah satu warga setempat, mengaku ikut membantu suaminya mencari umbi-umbian di gunung untuk kebutuhan makan tiga kali sehari. Bila tidak begitu, tidak ada apa-apa yang bisa dimakan untuk anak-anaknya.

“Kondisi ini sudah pernah dilaporkan kepada aparat desa, tetapi sampai hari ini belum ada bantuan apa-apa yang diserahkan kepada kami,” tandasnya.

*Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *