Cinlok, Tiga Pasangan Panti Jompo Menikah

Kota Bima, Kahaba.- Cinta memang tak pandang usia. Pengakuan saling mencintai, memberi isyarat bahwa cinta memang layak untuk diperjuangkan hingga ke jenjang pernikahan.

Penghuni Panti Jompo Tresna Werdha Meci Angi Bima. Foto: Bin

Penghuni Panti Jompo Tresna Werdha Meci Angi Bima. Foto: Bin

Demikian mungkin yang dialami tiga pasangan kakek nenek penghuni Panti Jompo Tresna Werdha Meci Angi Bima. Berawal dari Cinta Lokasi (Cinlok), mereka serius membingkai rumah tangga di penampungan masa senja.

Tiga pasangan yang dimaksud masing-masing, Ilah Ama Sia (80) warga Roi Kecamatan Palibelo yang mempersunting pujaan hatinya, Saani (70) warga Nunggi Kecamatan Wera Kabupaten Bima.

“Mereka berdua awalnya Cinlok, beberapa bulan kemudian dinikahkan Tahun 2012 lalu,” ujar pengurus Panti, Abdul Sahid, Ahad (12/10).

Kemudian, pasangan Jamaludin Abo (69) warga Rato Kecamatan Belo Kabupaten Bima, menikah dengan Kalisom (72) warga Rabadompu Barat Kecamatan Raba Kota Bima. Mereka berdua dinikahkan tahun 2013.

Demikian juga pasangan ketiga yakni Jamaludin (67) warga Desa Samili Kecamatan Woha dan Mukminah (67) warga Talapiti Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima, keduanya dinikahkan Tahun 2014.

Diakuinya, tiga pasangan itu memang terlihat akrab. Ditelusuri ternyata mereka telah lama menjalin Cinlok. “Pernikahan mereka disetujui keluarga masing-masing, pihak keluarga juga hadir saat acara nikah di Panti,” katanya.

Proses nikah pun digelar dengan sangat sederhana. Hadir pihak Kantor Urusan Agama (KUA) Kelurahan Kecamatan Asakota meresmikan hubungan suami istri mereka. “Kini tiga pasangan itu sudah tidur satu atap, layaknya pasangan suami istri,” jelasnya.

Kata dia, berkat pernikahan, aktivitas sehari – hari tiga pasangan praktis berubah. Semangat hidup seolah anak muda dan energik.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *