Tengok Kehidupan Warga Seberang Teluk Waworada

Kabupaten Bima, Kahaba.- Teluk Waworada, Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima menyimpan banyak potensi dan tabir alam yang belum tersikap. Nama Teluk Waworada rasanya tidak asing lagi bagi masyarakat Bima. Namun, tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan warga yang hidup di seberang teluk tersebut.

Kondisi pemukiman masyarakat Desa Karampi. Foto: Erde

Kondisi pemukiman masyarakat Desa Karampi. Foto: Erde

Sejumlah awak media, berkesempatan berkunjung ke negeri seberang laut itu pada akhir pekan kemarin. Seperti apa kondisi warga yang mendiami daerah bagian selatan Bima itu? Berikut Liputan Kahaba.net, Erde

Wilayah Kecamatan Langgudu seberang Teluk Waworada memilik beberapa desa. Diantaranya, Desa Soro Afu, Desa Karampi, Desa Pusu, Desa Sarae Ruma dan Desa Wadu Ruka. Desa-desa itu terbagi lagi kedalam beberapa dusun dan perkampungan lagi.

Untuk sampai ke desa-desa itu belum ada alternatif transportasi lain kecuali memilih jalur laut. Antara desa yang satu dengan desa lain berjarak cukup jauh. Akses jalan darat hanya dihubungkan jalan setapak dan harus melewati pegunungan.

Akses Transportasi Kurang Memadai

Butuh waktu sekitar 30 menit menempuh perjalanan ke beberapa desa itu, jika menggunakan Speed Boat. Tetapi jika menggunakan Motor Boat atau yang dikenal Monto dalam istilah warga disana, membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk perjalanan pulang-pergi yang harus disediakan adalah sebanyak 40 liter. Masing-masing 20 liter untuk berangkat dan 20 liter untuk pulang.

Pekerja Media saat berada di diatas satu-satunya alat transportasi menuju

Pekerja Media saat menyeberang menggunakan speed boat, sebagai alat transportasi menuju Desa diseberang Teluk Waworada. Foto: Erde

Namun, jika memilih transportasi umum Monto, warga harus merogoh kocek Rp. 10 ribu sekali jalan. Itu pun harus menunggu penumpang lainnya berjam-jam agar hitungan sekali jalan bisa mengganti harga BBM 20 liter yang dikeluarkan pemilik Monto. Seperti itulah yang dirasakan warga seberang teluk setiap hari.

Akses transportasi laut juga digunakan warga untuk berpindah dari desa satu ke desa lainnya di seberang teluk. “Masalahnya akses jalan darat belum ada sama sekali. Warga masih gunakan jalan setapak. Jemabatan juga belum dibangun sehingga tidak bisa dilalui kendaraan,” kata Camat Langgudu, Drs. Muhammad Rum, M.Si.

Masih Andalkan Listrik Tenaga Surya

Pemerataan pembangunan di Kabupaten Bima belumlah dirasakan sepenuhnya oleh semua masyarakat. Masih ada sejumlah daerah yang sangat minim perhatian disaat pusat ibukota sedang berlomba untuk tampil moderen. Seperti dirasakan sejumlah desa diseberang teluk Waworada Kecamatan Langgudu. Hingga kini, warga setempat masih hidup tanpa dukungan listrik yang memadai.

Seperti di Desa Sarae Ruma misalnya. Meski sudah puluhan tahun Kabupaten Bima berdiri, warga hanya merasakan terang pada siang hari. Sebab listrik belum sampai ke mereka. Untuk penerangan, warga hanya mengandalkan listrik tenaga surya. Alat itu diperoleh dari bantuan Pemerintah Daerah sekitar puluhan tahun lalu. Itupun hanya sebagian kecil warga saja yang mendapatkannya.

“Bantuan listrik tenaga surya baru 40 kepala keluarga yang mendapatkannya. Sementara di Desa Sarae Ruma, ada sekitar 650 kepala keluarga. Masih banyak warga yang hidup dalam gelap,” kata Kepala Desa Sarae Ruma, Adhar Usman, kepada wartawan saat berkunjung akhir pekan kemarin.

Warga Dusun Sorobali saat menunjukan umbian gadung yang sudah diproses. Foto: Erde

Warga Dusun Sorobali saat menunjukan umbian gadung yang sudah diproses. Foto: Erde

Adhar mengaku, penggunaan listrik dari tenaga surya sangat terbatas karena jumlah daya yang dihasilkan tidak terlalu banyak. Warga hanya menggunakan listrik beberapa jam saja, yakni antara pukul 18.00 hingga 22.00 wita bila menggunakan barang elektronik seperti televisi. Namun, kalau hanya sekedar menyalakan lampu listrik bisa bertahan hingga tengah malam.

Menurut Kepala Desa Karampi, Rifdun H. Hasan, jaringan listrik PLN sebenarnya sudah masuk ke seberang teluk Waworada, tetapi baru sampai di Dusun Soro Bali Desa Karampi. Pemasangan itu dilakukan tahun 2014 ini, sementara sebagian besar wilayah dibagian barat belum dipasang jaringan.

“Warga kami juga sebagian masih menggunakan tenaga surya dan sebagian lain belum ada penerangan sama sekali,” ujarnya.

Adhar dan Rifdun berharap, pemasangan jaringan listrik bisa dituntaskan hingga semua dusun pada tahun 2014 ini. Atau paling tidak membantu semua warga dengan listrik tenaga surya. Sebab warga seberang teluk sangat ingin hidup dengan penerangan layaknya desa lain. “Ini sudah jaman moderen, tapi kami belum juga menikmati listrik. Mohonlah ada perhatian dari pemerintah,” harapnya.

Alami Krisis Pangan

Kekeringan yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Bima berdampak krisis pangan bagi warga empat Desa di Kecamatan Langgudu yakni Desa Karampi, Wadu Ruka, Sarae Ruma dan Pusu. Pasalnya, lahan pertanian warga kering kerontang dan tak ada yang bisa ditanami apa-apa. Akibat kondisi itu, selama tiga bulan terakhir warga setempat tidak memiliki stok beras dan terpaksa hanya makan umbi-umbian.

Kondisi rumah warga Desa Sarae Ruma yang belum ada listrik. Foto: Erde

Kondisi rumah warga Desa Sarae Ruma yang belum ada listrik. Foto: Erde

Kondisi itu diperparah dengan lokasi empat desa yang terpencil dan sangat jauh dari pusat ibukota kecamatan. Untuk sampai ke desa tersebut, warga harus menyeberang lautan dengan jarak tempuh sekitar lima kilometer dari desa lainnya. Hal itu membuat desa yang dihuni masing-masing sekitar 700 Kepala Keluarga itu kesulitan mendapatkan pasokan beras. Apalagi mereka rata-rata warga tidak mampu karena sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Penyebab krisis pangan keempat desa hampir sama yakni karena gagal panen akibat kemarau panjang. Sekitar 3 ribu warga yang mendiami masing-masing desa terpaksa mengganti makanan pokok beras dengan Umbian Gadung (Lede ; Bahasa Bima) karena krisis pangan tersebut. Kondisi itu sudah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Warga setempat harus bertahan hidup dengan mengkonsumsi umbian beracun itu karena tidak ada pilihan lain.

Kepala Dusun Nanga Ni’u Desa Karampi, Kamsu Muhammad mengaku, sudah tiga bulan warganya hanya makan umbi-umbian yang diambil dari gunung. Sebab stok beras yang dimiliki warga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa minggu awal memasuki musim kemarau. Masalah yang sama juga dirasakan warga dusun lainnya di empat desa.

“Tidak ada pilihan lain bagi kami kecuali makan umbi-umbian saja untuk bertahan hidup. Mau beli beras masalahnya harus menyeberang lautan lagi dan harganya mahal bagi kami,” ungkapnya.

Potensi Yang Belum Tersentuh

Meski masih jauh tertinggal dari aspek pembangunan dengan desa-desa lainnya di Kabupaten Bima. Desa seberang pulau memiliki potensi alam melimpah sebagai aset yang tak pernah habis. Diantaranya beranekaragam hasil laut seperti ikan, kerang, rumput laut dan mutiara.

Laut teluk Waworada yang memiliki banyak Potensi. Foto: Erde

Laut teluk Waworada yang memiliki banyak Potensi. Foto: Erde

Kini, masyarakat mulai membudidayakan rumput laut untuk meningkatkan taraf ekonomi. Tak tanggung-tanggung, rumput laut yang dihasilkan di Teluk Waworada merupakan kualitas ekspor. Begitu pula dengan mutiara, potensi pengembangannya sangat menjanjikan hingga telah dilirik para investor.

Lokasi Budidaya mutiara di Teluk Waworada. Foto: Erde

Lokasi Budidaya mutiara di Teluk Waworada. Foto: Erde

Selain itu warga seberang teluk juga memilik aset wisata Pantai Tolo Bura yang terletak di Dusun Sido Desa Sarae Ruma. Pantai Tolo Bura memiliki pasir putih yang membentang sepanjang 3 kilometer dibibir pantai. Indah dan belum terjamah para wisatawan. Namun, Pantai Tolo Bura belakangan mulai diketahui masyarakat karena pernah terekspos media telivisi nasional.

“Sudah banyak warga yang mulai berkunjung ke pantai ini karena mengetahui keindahannya. Tinggal perhatian pemerintah saja untuk mengelolanya agar menjadi obyek wisata unggulan di Langgudu,” kata Kepala Desa Sarae Ruma, Adhar Usman. (*)

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *