HIMMAH Desak Ketua KNPI Bima Turun Dari Jabatan

Kabupaten Bima, Kahaba.- Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (HIMMA) Cabang Bima menggelar aksi saat Rapat Kerja Daerah (Rakerda) ke-XII DPD II KNPI Kabupaten Bima (Baca. Rakerda KNPI Bima, Ricuh), Ferdiansyah Fajar Islam, ST, Sabtu (25/10). Mereka mendesak agar ketua KNPI Kabupaten Bima, turun dari jabatannya.

Suasana aksi saat Rakerda KNOI Kabupaten Bima. Foto: Teta

Suasana aksi saat Rakerda KNOI Kabupaten Bima. Foto: Teta

Salah seorang anggota HIMMA, Sidik beralasan, karena Ferdiansyah dinilai tengah tersangkut proses hukum, terkait dugaan korupsi pengadaan Fiberglass.

“Ketua KNPI harus turun dair jabatannya. Kami selaku pemuda tidka mau dipimpin oleh orang yang tersangkut kasus hukum,” tegasnya di Hotel La Illa Kota Bima.

Disamping itu, ia juga meminta agar yang bersangkutan fokus pada proses hukum yang dihadapi saat ini.
Karena, program selama ini tidak berjalan karena proses hukum itu.

“Masalah ini tidak bisa ditutup tutupi, masyarakat sudah tahu semuanya,” ungkapnya.

Menurut dia, masalah ini tidak bisa dibiarkan. KNPI akan tambah hancur jika dipimpin oleh Ketua yang bermasalah. “Semua pengurus harus melihat dan menganalisa dengan baik tentang keberadaan ketua KNPi Kabupaten Bima, jangan mau dikibulin oleh orang yang tersangkut kasus,” sorotnya.

Ricuh saat Rakerda KNPi Kabupaten Bima. Foto: Teta

Ricuh saat Rakerda KNPi Kabupaten Bima. Foto: Teta

Sementara itu, Ferdiansyah yang saat itu menanggapi sorotan HIMMAH menjawab, masalah itu nanti akan diselesaikan oleh pengurus. “Kita akan ikuti semua prosedur,” jawabnya.

Kata dia, tidak ada masalah di organisasi KNPI yang ditutup-tutupi. Permintaan HIJMMAH akan didiskusikan dengan pengurus. “Organisasi ini punya aturan yang jelas, biar organisasi yang akan memutuskannya,” tambah pria yang biasa disapa Dae Ade itu.

*Teta

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *