Tulang Punggung Keluarga Ini Menderita Tumor Ganas

Kota Bima, Kahaba.- Malangnya nasib Asti, perempuan yang masih gadis itu harus terus menahan rasa sakit dibagian perutnya yang kian membesar. Entah sampai kapan, Asti dan keluarga tidak tahu. Hanya terus memanjatkan harap, semoga derita lekas berakhir.

Asti Penderita Tumor Ganas terbaring ditemani adiknya. Foto: Bin

Asti Penderita Tumor Ganas terbaring ditemani adiknya. Foto: Bin

Saat dikunjungi, Asti yang terbaring di gubuk milik adiknya nampak kaget melihat kuli tinta berkunjung, di RT 10 RW 05 Lingkungan Soro Kelurahan Melayu Kota Bima. Yah, perempuan itu nampak kurus, kusam, rambut yang tak terurus, serta berkeringat menahan terik matahari ditempat tidurnya yang pengap.

Saat ditanya dan hendak bercerita, mata perempuan yang dulu dikenal tangguh bekerja dan tulang punggung keluarga itu berkaca. Ia seolah tidak kuasa ingin mengurai deritanya yang sudah bertahun – tahun itu. Sembari menunduk dan menahan tangis, adiknya Rosdiana kemudian menyela dan mengawali cerita.

Asti berada di gubuk adiknya. Foto: Bin

Asti berada di gubuk adiknya. Foto: Bin

Awalnya, beberapa Tahun lalu, kakaknya yang sudah berusia 34 Tahun itu merasakan ada daging tumbuh diperut samping kanannya. Sesekali sakit dan terasa semakin membesar.

“Dulu sempat sembuh, dan Asti melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh cuci dan setrika di beberapa rumah warga,” ujarnya.

Seiring waktu, kemudian Asti merasakan lagi sakit di perut sebelah kiri. Satu tahun kemudian, perutnya semakin membesar. “Beberapa kali ke dokter praktek, terakhir Asti dibilang menderita tumor ganas,” tutur Rosdiana.

Mendengar penyakit yang diderita Asti, keluarga hanya bisa pasrah. Karena yang terbayang harus menyiapkan uang tidak sedikit untuk kesembuhan. Sementara kondisi keluarga pun terbilang susah. Orang tua laki-lakinya meninggal, sementara Ibu juga sudah tua dan tidak kuat.

Kondisi Rumah yang ditempati Asti. Foto: Bin

Kondisi Rumah yang ditempati Asti. Foto: Bin

Namun, seolah tak ingin berhenti usaha, berbagai cara pun dilakukan keluarga, termasuk berusaha dengan obat tradisional, tapi tak ada tanda keadaan semakin membaik. “Kita ingin berobat dan operasi di Mataram, tidak ada uang mas,” tuturnya.

Upaya ke Pemerintah Kota pun pernah dilakukan. Oleh saudaranya, proposal permohonan bantuan dana pernah dibawa ke rumah Wakil Walikota Bima. Namun, keinginan bertemu dan menyampaikan permohonan itu gagal. Oleh Pol PP menyarankan untuk membawa langsung di kantornya.

“Didepan ruangan Wakil Walikota Bima, kami hanya bertemu dengan Ajudannya. Kami pulang dengan membawa kembali proposal, karena masih kekurangan bahan,” jelasnya.

Satu Tahun terakhir, putri keempat dari 11 bersaudara itu tidak lagi bisa menjadi tulang punggung keluarganya. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Sakit dirasakan jika makan dan minum, begitu pula jika dirinya berjalan menuju Toilet untuk buang hajat.

Asti terbaring menanti harapan. Foto: Bin

Asti terbaring menanti harapan. Foto: Bin

Rosdiana dan Asti hanya bisa berharap, agar Pemerintah bisa membantu kesembuhannya. Karena tumor ganas itu tentu akan mengancam kehidupannya. “Harapan kami satu – satunya hanya pada Pemerintah. Kami mohon bantu kami dan sembuhkan Asti,” pintanya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Lurah Melayu Kamrin M. S.Sos yang juga saat itu berada di rumah Asti mengaku akan segera melaporkan derita warganya itu ke Kepala Daerah. Dengan harapan, Asti mendapat bantuan.

“Asti tulang punggung keluarga, hidupnya kini hanya berharap sembuh agar bisa kembali membantu keluarga,” terangnya.

Semoga saja, derita Asti ini mendapat perhatian. Agar perempuan malang ini bisa kembali beraktifitas dan meraih harapan – harapannya yang masih terkubur.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *