Dikes Kabupaten Bima Sosialisasi HIV/AIDS

Kabupaten Bima, Kahaba.- Untuk mengantisipasi meningkatnya potensi penularan penyakit AIDS di wilayah Kabupaten Bima, Dinas Kesehatan Kabupaten Bima Rabu, (26/11) menggelar Sosialisasi Penyakit HIV/AIDS, di Aula Dinas setempat.

dr. Muhamad Akbar memberikan pemahaman tentang HIV kepada   peserta sosialisasi. Foto: Hum

dr. Muhamad Akbar memberikan pemahaman tentang HIV kepada peserta sosialisasi. Foto: Hum

Kegiatan tersebut diikuti beberapa SKPD terkait Lingkup Pemeritah Kabupaten Bima, seperti para Camat, Muyawarah Pimpinan Kecamatan (MUSPIKA) yang tergabung dalam Lintas Program dan lintas Sektor Kabupaten Bima.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Bima Raodah, S.ST. Gz., M.Kes. menjelaskan, strategi yang dilakukan Pemerintah Daerah dan Pemprov NTB dalam menanggulangi HIV/AIDS  diantaranya melalui advokasi kepada beragam elemen, sebagai upaya Pengendalian Penyakit (P2) HIV/AID, meningkatkan kualitas, kuantitas dan kinerja semua pihak yang terlibat dalam upaya P2 HIV  dan melakukan penjangkauan pada kelompok beresiko secara lokal, spesifik dan dinamis untuk identifikasi masalah.

Dikatakannya, bahwa kasus Pertama ditemukannya HIV/AIDS adalah di Bali pada tahun 1987. Serupa dengan pola penyebaran di negara lain, di Indonesia dimulai diantara homosex, kemudian menyebar pada sekelompok kecil orang-orang berperilaku resiko tinggi, seperti pecandu narkotika, tuna susila dan lain lain.

Adapun gambaran HIV-AIDS di Kabupaten Bima Tahun 2010 sampai saat ini menurut Raodah, pada Tahun 2013 sampai dengan September 2014 tercatat kasus baru HIV AIDS sebanyak 52.624 (HIV= 7.936 kasus, AIDS= 44.688 kasus/84,92%).

Estimasi pada Tahun 2006 sekitar 193.000 orang terinfeksi HIV dan sekitar 186.000 orang pada tahun 2009, Estimasi Jumlah orang dengan HIV-AIDS (ODHA) 591. 823 Tahun 2012.

Dengan demikian, Indonesia sudah menjadi negara urutan kelima di Asia paling berisiko HIV AIDS. Sebagian besar infeksi baru diperkirakan terjadi pada beberapa sub-populasi beresiko tinggi  (prevalensi>5%), yaitu pada wanita pekerja seks (WPS), dan waria.

“Sosialisasi ini ditujukan untuk memberikan pemahaman tentang HIV/AIDS kepada para peserta sebagai ujung tombak dalam memerangi penyakit mematikan tersebut, jangan sampai sumber penularan ada disekitar kita,” tegasnya melalui Rilis yang disampaikan Kasubag Informasi dan Pemberitaan Bagian Humas dan Protokol Suryadin, S.S, M.Si.

Raodah juga berharap agar peserta dapat berbagi pengetahuan tentang HIV/AIDS kepada semua orang yang ada disekitarnya sehingga dapat terhindar dari penyakit HIV/AIDS.

Sementara itu, konselor AIDS dr. Muhammad Akbar dalam pemaparannya mengungkapkan HIV/AIDS adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat tertular melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian.

Bisa juga disebabkan pengunaan jarum bekas, hubungan seks dengan orang yang HIV positif tanpa menggunakan kondom, dari ibu HIV positif ke anak melalui proses kehamilan dan melahirkan serta dari ibu HIV positif ke anak melalui ASI.

Selanjutnya dr. Akbar memaparkan, Virus tersebut menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan orang  telah terinfeksi HIV menjadi sangat rentan terhadap berbagai penyakit yang dapat mengancam hidup.

Tahapan infeksi HIV/AIDS menurutnya, tahap pertama perjalanan virus infeksi HIV akut/periode jendela (selama 3 bulan setelah terinfeksi) Virus masuk kedalam tubuh dan sudah mereplikasi. Tahap kedua, Virus belum bisa dideteksi. Tidak ada gejala tapi virus sudah dapat ditularkan. Tanpa gejala/stadium 1 (selama 5-7 tahun setelah periode jendela) virus sudah dapat dideteksi (melalui tes HIV) belum menunjukkan gejala, tergantung kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh.

Tahap selanjutnya, muncul stadium 2-3 (6 bulan-2 tahun setelah tanpa jendela) mulai muncul gejala, seperti demam berkepanjangan, sariawan, dermatitis, penurunan berat badan, diare terus menerus tanpa sebab serta batuk dan sesak napas lebih dari satu bulan.

Tahap keempat, Stadium 4/AIDS, sistem Immune menurun dratis. Tubuh rentan terkena penyakit seperti pneumonia, TBC, kanker kulit dan infeksi usus.

“Agar terhindar dari penyakit mematikan ini, kami menyarankan agar setiap orang tidak melakukan hubungan di luar konteks, setia pada pasangan masing-masing, apabila melakukan hubungan harus menggunakan kondom dan jangan pernah gunakan narkoba baik suntik maupun oral,” jelasnya.

*Bin/Hum

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *