Dari Puja Mandala Hingga Pura Terbesar Besakih

Catatan Perjalanan Kunjungan FKUB Kota Bima ke Bali Bagian III

Kunjungan FKUB Kota Bima ke Negeri Seribu Pura, tidak saja sekedar wisata rohani. Namun, banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang didapat selama empat hari kunjungan. Terutama tentang potret kerukunan hidup antar umat beragama yang sangat harmonis. (Baca. Adzan Subuh Tetap Gunakan Pengeras Suara)

Kanwil kemang Bali. Foto: Erde

Kanwil kemang Bali. Foto: Erde

Karenanya, FKUB datang dengan rombongan lengkap mewakili pemeluk umat beragama di Kota Bima. Mereka berjumlah 10 orang, terdiri dari Kabag Hukum dan KUB Kanwil Kemenag NTB yang juga Sekretaris FKUB NTB, (H. Fahmi Azis, MH), Kepala Kemenag Kota Bima (Drs. H. Syahrir, M.Si), Kabag Kesra Kota Bima (Drs. A. Wahid). Keduanya juga merupakan Dewan Penasehat FKUB Kota Bima.

Ketua FKUB Kota Bima (Eka Iskandar Z, S.Ag, M.Si), Perwakilan Majelis Ulama Indonesia Kota Bima (H Adnin, SQ, M.PdI). Kemudian yang mewakili Ormas Islam Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Bima (Drs. H. Ichwan P. Syamsudin, M.Ap), Ketua PC Nadlatul Ulama Kota Bima (Drs. H. Dena Muhammad). Hadir juga Tokoh Agama Hindu (I Wayan Sutha), Tokoh Agama Katholik (Drs. Klemen Nempung) dan Tokoh Agama Kristen Protestan (Drs. Andreas Basuki).

Rombongan terlihat antusias berdiskusi dengan tokoh sejumlah agama untuk mengetahui bagaimana kerukunan antar umat bergama selama ini terbangun di Bali. Seperti terlihat saat berkunjung ke pusat peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua. Meski areal tempat peribadatan cukup luas dan harus berjalan kaki untuk mengelilinginya, tak mengurungkan semangat agen toleransi Kota Bima ini. (Baca. Potret Kerukunan Antar Umat Beragama di Bali)

Tokoh Agama Islam pun tak sungkan untuk masuk ke Gereja, Pura maupun Vihara tempat ibadah agama lain. Begitupun Tokoh Agama Khatolik, Hindu dan Protestan diterima baik saat masuk Masjid. Setelah berkeliling Masjid dan masuk Gereja, rombongan juga masuk ke Vihara dan Pura. Pemandangan seperti itu mungkin masih asing di Bima. Namun di Bali, hal itu merupakan sebuah budaya yang berguna untuk menciptakan keharmonisan antar umat beragama. (Baca. Belajar Kerukunan Beragama, FKUB Kunjungi Bali)

Puja Mandala. Foto: Erde

Puja Mandala. Foto: Erde

“Kami disini hidup rukun dan tidak pernah ada konflik. Pada hari Waisak, kami dari umat Budha juga mendapatkan ucapan selamat secara langsung maupun karangan bunga dari pemeluk agama lain. Begitupun saat kegiatan-kegiatan penting, kita saling membantu,” ujar Teguh, penjaga Vihara saat mengajak berkeliling rombongan FKUB.

Menutup kunjungan di Puja Mandala, rombongan FKUB diajak masuk di Pura, tempat peribadatan Umat Hindu. Sikap ramah dan senyuman Pemangku Pura Jagat Natha, I Wayan Badra membuat rombongan cukup lama berada di dalam Pura. Tidak ada rasa keengganan untuk bercerita dari pria paruh baya yang dihormati umat Hindu di Bali itu.

Sebab menurutnya, semua manusia bersaudara dan berasal dari nenek moyang yang sama meski berbeda keyakinan. Agama apapun kata dia, pasti mengajarkan nilai yang sama, yakni kasih sayang, saling menghargai, saling menghormati dan tolong menolong. Prinsip itu mesti ditanamkan setiap pemeluk agama bila ingin membangun kerukunan hidup antar umat beragama.

Pria yang pernah bersuci di Sungai Gangga, India ini bercerita panjang soal perjuangannya bersama tokoh agama lain menyukseskan pembangunan pusat peribadatan Puja Mandala. Berkat semangat persaudaraaan, pembangunanya bisa dirampungkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Hal itu menandai, semua pemeluk agama sama-sama menginginkan terciptanya kedamaian dan ketenanganan dalam menjalankan hidup antar sesama.

“Meski saya dari Umat Hindu, saya belajar tentang nilai Islam, Kristen, Protestan dan Budha. Dari situ saya melihat semua agama sebenarnya mengajarkan cinta kasih dan diminta untuk saling menghormati antar sesama,” tuturnya.

Dia berharap, kerukunan seperti itu bisa tercipta di Bima. Khusus kepada Umat Hindu dirinya berpesan agar selalu menunjukan sikap keteladanan kepada agama lain. Ikut aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik serta tidak saling menyinggung.

“Bila ingin membangun Pura, maka bicarakan itu dengan pemerintah, ikuti mekanisme yang ada maka aturan akan melindungi kita,” pesannya kepada Umat Hindu di Bima.

Usai menuntaskan kunjungan di Puja Mandala, rombongan FKUB kembali melanjutkan kunjungan ke Besakih, Pura terbesar di Propinsi Bali yang terletak di Kabupaten Karang Asem. Untuk menempuh perjalanan kesana dibutuhkan waktu sekitar dua jam lebih. Namun, panorama alam sepanjang jalan menghilangkan rasa penat rombongan. Di Besakih, rombongan ikut didampingi Kabag Hukum dan KUB Propinsi Bali, Abu Siri, S.Ag, M.PdI.

(Bersambung)

*Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *