Tramadon Beredar Bebas, Mahasiswa Seruduk Dikes

Kota Bima, Kahaba.- Obat Tramadon tak sulit didapatkan di Apotek Kota Bima. Padahal, membeli obat keras itu harus disertai dengan resep dokter. Mudahnya dijual oleh Apotek, justru menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kalangan Mahasiswa.

Ilustrasi

Ilustrasi

Menyoal itu, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Kampus II STKIP Bima menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Bima.

Mereka meminta agar Dikes mengeluarkan rekomendasi, guna melakukan peninjauan ulang terhadap Apotek.

Koordinator Aksi, Slamet Sudarsono menyebutkan obat Tramadon saat ini bebas di jual Apotek. Tidak hanya kalangan dewasa, bahkan siswa pun bisa membeli tanpa resep dokter.

Padahal, keberadaan obat ini bisa disalahgunakan oleh siswa yang digunakan sebagai obat penenang. Untuk itu, dia dan teman-temannya meminta agar Dikes Kota Bima mengeluarkan rekomendasi untuk meninjau kembali keberadaan apotek yang menjual bebas obat tersebut secara ilegal.

Sebab, dengan menjual bebas, berarti Apotek maupun Dikes telah melakukan pembiusan dalam arti umum. “Masyarakat sudah dibodohi, masyarakat sudah dibius oleh Dikes,” sorotnya.

Pihaknya juga meminta agar Dikes mengeluarkan peraturan, jika obat Tramadon tidak dijual secara bebas oleh seluruh Apotek. Jika masalah ini tidak diselesaikan, dia dan rekan-rekannya pun mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar.

Sementara itu Sekretaris Dikes, Ahmad S.sos yang dikonfirmasi menerangkan sesuai dengan PP 51 Tahun 2009 tentang kefarmasian bahwa segala sesuatu aktufitas yang dilakukan di Apotek menjadi tanggungjawab apotek dan pemilik usaha.

Sementara sesuai Kepmenkes Nomor 132 tahun 2002 tentang tata cara dan pemberian izin, pihak Dikes hanya memberikan pengawasan terhadap apotek sesuai rekomendasi yang diberikan oleh Balai POM.

Namun lebih jauh dijelaskannya, Tramadon merupakan obat analgesic atau penghilang rasa sakit sama dengan antalgin atau asamenamat. “Tapi Tramadon ini lebih spesifik untuk pasien yang telah selesai dioperasi,” tandasnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. dede

    bagus,lanjutkan kawan……, supaya dokter yg brerpraktek lebih memikirkan pemilihan jenis gol.obat yg aman,dan tdk serta berpikir ..iming” bonus yg besar dari pbf.dan pemilik apotek juga tdk hanya berpikir keuntungan semata,begitu juga dengan apoteker sebagai penanggung jawab apotek, berpikir …….dech izajah, jgn hanya formalitas utk mendapatkan strsaja,kerja….kerja.mau gaji tinggi ngak mau full kerjanya,enak aja lho…..,oknum Dikes juga ,tau nya duduk aja,mana fungsi pengawasannya….!, takut ya,… ngak di kasi lagi ,sama pemilik apotek,….ya…. kasian,.. yang gaji pns nya, sdh nga ada lagi yg diterima si…. sdh masuk pegadian bank.luar biasa……..

  2. dede

    bagus,lanjutkan kawan……, trama trama. supaya dokter yg brerpraktek lebih memikirkan pemilihan jenis gol.obat yg aman,dan tdk serta berpikir ..iming” bonus yg besar dari pbf.dan pemilik apotek juga tdk hanya berpikir keuntungan semata,begitu juga dengan apoteker sebagai penanggung jawab apotek, berpikir …….dech izajah, jgn hanya formalitas utk mendapatkan strsaja,kerja….kerja.mau gaji tinggi ngak mau full kerjanya,enak aja lho…..,oknum Dikes juga ,tau nya duduk aja,mana fungsi pengawasannya….!, takut ya,… ngak di kasi lagi ,sama pemilik apotek,….ya…. kasian,.. yang gaji pns nya, sdh nga ada lagi yg diterima si…. sdh masuk pegadian bank.luar biasa……..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *