Di BRI Bima, Kelebihan Jam Kerja Tidak Dibayar

Kota Bima, Kahaba.- Empat orang pekerja kontrak BRI Cabang Raba Bima yang di PHK (Baca. Secara Sepihak, BRI Bima PHK Empat Pegawai) kini mulai buka – bukaan soal kebobrokan yang ada didalam internal kantor tersebut selama ini. Seperti Kelebihan jam kerja yang tidak pernah di bayar dan soal pemberian cuti.

Empat orang pegawai Bank BRI Cabang Bima yang di PHK secara sepihak menunjukan surat PHK yang masing-masing diterima. Foto: Bin

Empat orang pegawai Bank BRI Cabang Bima yang di PHK secara sepihak menunjukan surat PHK yang masing-masing diterima. Foto: Bin

Menurut M. Ikbal Ritauldin, Ade Norma, Noerrachmat dan Chandra Adiwinata yang menjadi Korban PHK itu, kebijakan yang diambil Kepala Pimpinan Cabang (Pinca) BRI Bima, Marfis Antonius selama ini kerap melanggar aturan dan semena – mena. (Baca. Korban PHK BRI Melapor ke Komnas HAM dan Ombudsman)

Seperti kelebihan jam kerja yang selama ini diterapkan hampir setiap hari, justeru tidak pernah dibayar. Yang mestinya pegawai masuk kerja pukul 08.00 WITA sampai pukul 17.00 WITA, tapi pegawai bekerja hingga pukul 20.00 sampai 22.00 WITA.

Kemudian, lanjutnya, pada hari Sabtu dan Minggu yang mestinya libur, malah disuruh kerja dan grebek pasar. Tapi tetap, kelebihan jam kerja tetap tidak dibayar.

“Kendati ada instruksi dari wilayah untuk grebek pasar hari Sabtu dan Minggu, tapi tidak pernah dibayar lembur,” ungkapnya, Rabu malam (11/2).

Kemudian soal cuti, sambung Ikbal, pegwai di BRI memiliki hak cuti seperti yang tertuang dalam UU Tenaga Kerja Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 79 ayat 2 yang menyebutka hak cuti selama 12 hari kerja, setelah bekerja 12 bulan berturut turut. Namun, hak tersebut tidak pernah diberikan.

“Saya contohnya, sewaktu saya menikah. Pengajuan cuti saya hanya diberikan lima hari. Padahal saya punya hak untuk cuti selama 12 hari kerja. Tapi tidak diberikan, alasan Pinca waktu itu, cuti 12 hari kelamaan,” tuturnya.

Menurut Iqbal, manajemen Pinca sekarang semena – mena. Memaksa pegawai bekerja, tanpa upah setelah lembur. Sebelum Pak Marfis menjadi Pinca, kondisi kerja di BRI Bima sehat. Pinca sebelumnya tetap harus menyuruh pulang pegawainya jika sudah pukul 17.00 WITA.

“Sekarang kondisi kerja di BRI Bima sakit. Seluruh pegawai juga mengetahui dan merasakannya, tapi tidak ada yang berani protes dan ungkap, karena memang terlalu riskan dan akan berdampak buruk bagi pegawai,” jelasnya.

Mereka menambahkan, kondisi kerja yang sebenarnya di BRI memang sengaja diungkap. Agar bisa menjadi perhatian seluruh pihak, terutama BRI Wilayah dan Pusat.

Sementara itu, Pemimpin Cabang BRI Kanca Raba Bima Marfis Antonius yang berusaha ditemui di kantornya, tidak berada di tempat. Sekretarisnya mengaku pimpinannya sedang berada di luar daerah.

Saat nomor Handphone milik Marfis dihubungi, tidak menjawab. Demikian pula saat di SMS, Marfis tidak membalas.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Mitt

    Memang seperti itu keadaan BRI sekarang, banyak internal penting YG bertindak semena mena.. Saya juga Karyawan BRI, sya merasakanny Bagaimana lembur Di hari sabtu Selama 8jam namun tdk Diberikan upah lembur. Iya, semoga Kita semua mendapatkan keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *