Bupati Bima Tetapkan Tanggap Bencana Bencana Angin Puting Beliung

Kabupaten Bima, Kahaba.- Badai Marcia yang terjadi di wilayah Quensland Australia berdampak pada terjadinya bencana banjir dan Puting beliung di 10 Kecamatan yang ada di kabupaten Bima. Kecamatan yang terdampak bencana yaitu Kecamatan Sape, Lambu, Woha, Monta, Donggo, Sanggar, Langgudu, Bolo, Madapangga dan Lambitu.

Bupati Bima saat menyerahkan bantuan ke korban angin puting beliung. Foto: Hum

Bupati Bima saat menyerahkan bantuan ke korban angin puting beliung. Foto: Hum

Menanggapi bencana alam ini,  Bupati Drs. H. Syafruddin HM Nur, M.Pd melalui surat bernomor 360/006/010/2015 menerbitkan surat pernyataan tanggap darurat bencana banjir dan Puting beliung untuk wilayah Kabupaten Bima hingga empat hari kedepan.

Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Bima, M. Chandra Kusuma, AP melalui siaran persnya mengatakan, surat tanggap bencana tersebut mengacu pada hasil analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bima, terbukti nyata terjadi hujan lebat dan Puting beliung yang mengakibatkan robohnya rumah warga dan banjir di beberapa Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Bima.

Pernyataan tersebut selanjutnya ditindak lanjuti dengan Penetapan Status Keadaan Tanggap darurat penanganan bencana bank dan Puting, berdasarkan surat Keputusan Bupati Bima nomor 188.45/225/010/2015.  Status Tanggap darurat penanganan Banjir dan Puting Beliung ini berlalu dari tanggal 21 Pebruari sampai dengan 27 Pebruari 2015 dan dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan pelaksana penanganan bencana di lapangan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kabupaten Bima  H. Sumarsono, SH,  M menyatakan,  bencana alam tersebut terjadi tanggal 20 Pebruari 2015 sekitar pukul 17.40 WITA. Diawali hujan lebat dan angin kencang dengan kecepatan 45 knot yang menyebabkan meluapnya beberapa sungai dan robohnya rumah warga.

Luapan air sungai ditambah air hujan yang terus menerus turun menyebabkan ratusan rumah penduduk dan ratusan hektar areal persawahan penduduk terendam dan hanyut terbawa arus banjir.

Berdasarkan laporan yang dilansir dari BPBD Kabupaten Bima, sampai dengan tanggal 22 Pebruari 2015, kerugian yang dialami pada sektor pemukiman diketahui 466 rumah rusak berat, 302 Rusak sedang dan 937 rumah warga rusak ringan, sehingga total kerusakan pemukiman mencapai 1.705 rumah.

Sedangkan pada sektor ekonomi produktif seperti pertanian padi dan jagung dengan perkiraan total kerugian mencapai Rp. 14,59 Miliar. Wilayah yang mengalami kerugian terbanyak yaitu Kecamatan Woha Rp 3,21 miliar, disusul Sanggar yang mencapai Rp 2,59 Miliar, Kecamatan Langgudu Rp 2,54 Miliar, Lambitu Rp 1,86 Miliar, Wawo Rp 1,40 Miliar, Soromandi Rp 1,11 Miliar, Lambu Rp 696 Juta, Monta Rp 406 Juta, Bolo Rp 214 Juta dan Madapangga Rp 58 Juta.

Sumarsono menambahkan,  akibat bencana ini jalur darat,  akses jalan negara menuju kecamatan Monta terentang air setinggi kurang lebih satu meter sehingga tidak bisa dilalui kendaraan dan harus melewati jalur alternatif. Namun demikian jaringan komunikasi seluler,  telepon tidak terganggu  dan jaringan listrik mengalami pemadama beberapa saat.

Sementara jaringan air bersih terendam dan tidak bisa digunakan,  dan fasilitas kesehatan tetap dapat melayani warga.

Upaya penanganan darurat yang dilakukan yaitu Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD masih melakukan kaji cepat kerusakan dan kerugian akibat bencana, melakukan koordinasi intensif dengan instansi terkait dan menyalurkan bantuan berupa beras 3.000 kg, terpal 50 lembar, mie instab 100 dus dan sarden 10 dus. Terang Sumarsono.

*Abu

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *