FUI Kecam Sikap Diam Dewan Soal Pura Tambora

Kabupaten Bima, Kahaba.- Baru-baru ini Forum Umat Islam (FUI) Bima mengeluarkan pernyataan sikap melalui rilis. Mereka mengecam sikap diam Wakil Rakyat Kabupaten Bima soal rumah ibadah, Pura di Tambora. (Baca. Tuntutan Soal Pura Tambora Tak Direspon, FUI Datangi Dewan)

FUI Bima menggelar konferensi pers dan memberikan pernyataan sikap soal penolakan Pura Tambora. Foto: Bin

FUI Bima menggelar konferensi pers dan memberikan pernyataan sikap soal penolakan Pura Tambora. Foto: Bin

Sebab, hingga kini persoalan Pura Tambora itu belum ada penyelesaiannya. Kendati sudah beberapa kali dibahas elemen masyarakat dengan Pemerintah Daerah. (Baca. Dinda: Mengurai Masalah Pura Harus Hati-Hati dan Bijak)

Ketua FUI Bima, Asikin bin Manshur daklam rilisnya mengatakan, pihaknya kembali mendesak DPRD Kabupaten Bima segera menuntaskan polemik pendirian rumah ibadah tersebut. Pemerintah Kabupaten Bima juga diminta tidak tinggal diam menyikapi masalah dimaksud.

Untuk itu, FUI mengecam keras sikap diam atau tak peduli Pemerintah Kabupaten Bima dan DPRD terhadap penolakan Umat Islam dan Majelis Ulama Se-pulau Sumbawa.

Menurutnya, sikap tersebut dinilai melecehkan umat Islam, terutama Ulama yang seharusnya dimintai nasehat. Sikap diam seperti itu tidak layak memimpin dou labo Dana Mbojo yang telah dikaruniai oleh Allah umat Islam mayoritas dengan nilai-nilai Islam yang kuat.

Sementara terkait laporan Perjalanan Dinas Komisi IV DPRD Kabupaten Bima yang dikeluarkan 10 Februari 2015 lalu, menurutnya tidak menyentuh substansi penolakan Umat Islam dan Majelis Ulama se-pulau Sumbawa terhadap keberadaan Pura Tambora.

Karena itu, dirinya mendesak DPRD Kabupaten Bima bekerja maksimal menuntaskan substansi penolakan umat Islam dan MUI se-Pulau Sumbawa terhadap keberadaan Pura Tambora.

*Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *