Kanker Hati Gerogoti Abdul Karim

Kota Bima, Kahaba.- Badannya sudah kurus, perutnya pun semakin membesar. Jika bernafas, terasa sesak. Hari – harinya kini harus dihabiskan ditempat tidur. Duduk saja, terasa sangat sulit karena harus menahan sakit dibagian perut yang tak terkira.

Karim terbaring ditemani istrinya Siti Suwarni. Foto: Bin

Karim terbaring ditemani istrinya Siti Suwarni. Foto: Bin

Yah, Abdul Karim Umar (50) kini didiagnosa kanker hati. Beberapa kali berobat, baik di RSUD Bima maupun obat tradisional Bima, namun tak mengubah nasibnya sekarang. Perutnya kian membesar dan rasa sakit yang tak tertahankan.

Saat ditemui Kahaba di rumahnya RT 14 RW 06 Kelurahan Melayu, Sabtu (28/3) Karim sesekali berteriak, seolah menyampaikan yang tengah dialaminya begitu tersiksa. Wajahnya yang kering dan pucat, turut menggambarkan ekspresi cobaan berat yang harus diterimanya.

Ditemani istri tercinta, Siti Suwarni, Karim dengan suara lirih berkisah awal sakitnya. Selama puluhan tahun bekerja menjadi buruh di PT. Duta Ekspres Bima, November 2014 lalu tiba – tiba ia merasakan sakit perut sebelah kanan.

Karena menganggap sakit biasa, ia pun tidak begitu peduli. Beberapa saat kemudian, sakit perut disebelah kiri pun mulai dirasakannya. Karena khawatir, pria yang punya empat orang anak itu pun mulai memeriksa perutnya di dokter.

“Waktu itu hanya diberi obat oleh dokter Irma, Alhamdulillah sembuh. Tapi karena obat habis dan saya sudah tidak lagi bekerja, uang semakin berkurang dan obat tak terbeli,” ujarnya dengan terus menahan perih.

Karena kondisi miskin, oleh keluarga mengantarkan ke RSUD Bima untuk berobat, dan dibuatkan BPJS Kesehatan. Bukannya semakin sembuh, tapi justru tambah parah. Perutnya pun kian membesar.

“Karena tak ada perubahan, kami memutuskan untuk keluar dan berobat tradisional. Tapi sebelum keluar, kata dokter Irma dan dokter Ali, suami saya sudah terkena kanker hati dan sudah banyak cairan,” katanya.

Harapan bisa sembuh dari upaya obat tradisonal pun tak kunjung tiba. Malah sakitnya semakin menjadi, untuk duduk saja terasa semakin susah, pinggangnya seakan patah dan perut yang semakin terasa panas. Pilihannya, hanya bisa berbaring dengan perut yang didinginkan dengan air dingin dari botol.

Karim terbaring ditemani istrinya Siti Suwarni. Foto: Bin

Karim terbaring ditemani istrinya Siti Suwarni. Foto: Bin

“Untuk makan minum juga susah. Baru dua sendok nasi yang masuk, perutnya semakin sakit,” tutur istrinya.

Kata Siti Suwarni, dari tempat kerjanya dulu, tak pernah ada perhatian, minimal membantu untuk meringankan deritanya. Demikian pula dari Pemerintah, bahkan Lurah setempat sekalipun belum datang menjenguk warganya yang tengah dirundung cobaan.

Ditanya pemenuhan kebutuhan sehari – hari dan biaya sekolah anak terakhirnya yang masih kelas Dua SD, ia mengaku hanya berharap bantuan dari saudara dan para tetangga. “Bapak ini tulang punggung keluarga. Karena sudah tidak lagi bekerja, kami hanya bisa hidup seperti ini,” ucapnya.

Suwarni mengaku ingin sekali melihat suaminya sembuh dan kembali beraktifitas seperti biasa. Menjadi pemimpin dalam keluarga dan menghadirkan keceriaan untuk anak – anaknya.

Karim, merupakan sekian dari warga Kota Bima yang kini yang tengah diselimuti duka. Sakitnya seolah melumpuhkan semua semangat dan harapan. Hidup yang miskin, mungkin bukan pilihan mereka, tapi garis nasib sudah ditentukan, Siti Suwarni pun harus terus menemani suaminya untuk melewati kisah pilu ini dengan sabar dan tabah.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *