Komisi III Kota Bima Belajar Kebersihan dan Sampah di Kota Mataram

Kota Bima, Kahaba.- Setelah melaksanakan Kunjungan Kerja (Kunker) Komisi DPRD Kota Bima ke Kota Mataram beberapa waktu lalu, Senin (6/4) Komisi III menyampaikan hasil kunjungan melalui rapat Paripurna.

Anggota Komisi III DPRD Kota Bima, Muthmainnah saat menyampaikan laporan hasil Kunker. Foto: Bin

Anggota Komisi III DPRD Kota Bima, Muthmainnah saat menyampaikan laporan hasil Kunker. Foto: Bin

Anggota Komisi III, Muthmainnah yang ditunjuk sebagai juru bicara mengatakan, salah satu satretgi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kapabilitas dan pemahaman anggota dewan, adalah dengan melakukan kunjungan kerja ke daerah lain yang memiliki kemajuan dan keunggulan yang lebih baik.

Hal ini dilakukan, dengan harapan agar keunggulan-keunggulan dan pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh daerah, tujuan yang lebih maju dapat di adopsi dan disinkronkan dengan kebijakan daerah, sehingga kebijakan-kebijakan yang diterapkan dapat lebih baik dalam mempercepat akselerasi pembangunan di daerah.

Untuk menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman dan bersih, Pemerintah Kota Mataram program pengelolaan drainase menjadi salah satu progaram perioritas, dengan mengerahkan tenaga kebersihan sebanyak 300 orang perhari, untuk membersihkan drainase perkotaan sehingga tidak terjadi genangan air dan luapan air kepemukiman dan jalan.

“Terutama pada musim hujan, dan Pemerintah Kota Mataram telah membangun 400 drainase primer untuk saluran pembangunan pada empat sungai,” ujarnya.

Tenaga kebersihan ini merupakan relawan Kota Mataram yang terbentuk berdasarkan kesamaan keinginan dan kepedulian anggotanya untuk mewujudkan Kota Mataram yang bersih dan sehat. Mereka bekerja secara suka rela tanpa adanya dukungan anggaran Pemerintah Kota Mataram.

“Kegiatan yang dilakukan antara lain bersama masyarakat bergotong – royong membersihkan sungai, saluran drainase, melakukan sosialisasi kepada masyarakat, serta kegiatan lain yang berdimensi penyehatan lingkungan,” sebutnya.

Untuk masalah sampah, sambungnya, Pemerintah Kota Mataram telah meluncurkan program gerakan lisan (Lingkungan Dengan Sampah Nihil). Program itu merupakan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat (Comumunity Based) menuju penguatan kapasitas masyarakat (Community Building) dalam bidang pengelolaan sampah melalui sosialisasi pelatihan, dan dukungan sarana.

“Gerakan ini adalah rekayasa sosial dalam bidang pengelolaan persampahan. Implementasinya berupa barter sampah plastik dengan raskin, sedekah sampah plastik, pengolahan sampah organik, dan kerajinan berbahan baku sampah plastik,” jelasnya.

Gerakan ini bertujuan, menyadarkan masyarakat pada keharusan untuk mengelola sampah secara tepat. Memberikan nilai ekonomis pada sampah menuju peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mengurangi volume sampah di tempat penampungan sementara (TPS) dengan memutus jalur sampah dari rumah tangga ke TPS, sehingga memperpanjang usia tempat pemrosesan akhir (TPA), mengurangi biaya pengelolaan sampah (dengan pola kumpul angkut buang)sehingga penghematan APBD. Kemudian, mengeliminir masalah sosial yang ditimbulkan oleh sampah, seperti banjir dan berbagai penyakit.

“Gerakan ini di motori oleh berbagai kalangan yakni kelompok kerja di tingkat lingkungan Sekolah, Kelurahan, Kecamatan, LPM, KNPI dan Karang Taruna,” tandasnya.

Pemanfaatan bank sampah, dimana bank sampah adalah strategi untuk membangun kepedulian masyarakat, agar dapat berkawan dengan sampah untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah. Jadi baik sampah tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus diintegrasikan dengan gerakan 4R Sehingga manfaat langsung yang di rasakan tidak hanya ekonomi, namun pembangunan lingkungan yang bersih, hijau dan sehat.

Bank sampah dapat juga dijadikan solusi untuk mencapai pemukinan yang bersih dan nyaman bagi warganya. Dengan pola ini maka maka warga selain menjadi disiplin dalam pengelolaan sampah juga mendapatkan pemasukan dari sampah – sampah yang mereka kumpulkan di kota mataram, sehingga pelaksanaan bank sampah di sinergikan dengan pelaklasanaan progaram lisan di Kecamatan Selaparang. Bank sampah di kelola oleh kelompok kerja (Pokja) lingkungan dan kelompok kerja (pokja) sekolah. keuntungan yang diperoleh bank sampah akan kembali ke masyarakat selaku customer (nasbah) sekaligus produser.

Lanjutnya, Pemerintah Kota Mataram menerapkan TPA Sanitary Landfill yang merupakan upaya pemanfatan lahan yang cekung untuk dijadikan TPA, melalui penimbunan lahan dengan metode ini tidak berdampak pada pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat, serta sebagai solusi bagi pengedalian mata air.

“Pengelolaan sampah yang berasal dari Kota Mataram di buang pada satu tempat pemprosesan akhir yang berolaksi di daerah Suka Makmur Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, yang luasnya 8,6 Ha termasuk sarana dan prasarananya dan menggunakan sistim sanitary landfill,” tuturnya.

Kapasitas TPA adalah 297.500 m3, untuk memperpanjang masa pakai TPA di lakukan dengan progaram terpadu yang melibatkan seluruh SKPD dan unsur masyarakat seperti pelaksanaan program 3R lisan dan bank sampah.

Kemudian, untuk mendukung terwujudnya akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau Pemerintah Kota Mataram telah membangun beberapa taman kota, untuk memberikan keindahan, kenyamanan dan pengendalian lingkungan dari polusi, sehingga dapat menjamin ketersedian udara yang bersih, pemanfatan ruang terbuka hijau dari masyarakat ini dapat menumbuhkan usaha ekonomi mikro masyarakat.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *