Pelaksanaan MTQ Tingkat Kelurahan Disorot

Kota Bima, Kahaba.- Tudingan miring pada pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kelurahan di Kota Bima kian disorot. Berbagai persoalan terendus ke permukaan. Mulai pemotongan bantuan dari Pemerintah Kota Bima hingga pembagian hadiah dengan amplop kosong.

Ilustrasi/Foto: tribunnews.com

Hampir setiap kelurahan yang menggelar acara perlombaan MTQ dipotong anggarannya yang semestinya pihak panitia mendapatkan masing-masing Rp 25 juta per kelurahan. Fenomena ini bukan menjadi rahasia umum lagi. Karena korupsi bagai budaya baru yang sedang menjangkit birokrat di kota ini.

Di Kelurahan Matakando misalnya. Pemenang MTQ mengembalikan hadiahnya kepada panitia. Karena, dari hadiah yang diterima para pemenang dinilai tidak pantas. Di Sambinae, kegiatan MTQ dikelurahan itu lebih mengejutkan lagi. Tiga orang pemenang mata lomba kaligrafi di hadiahi amplop kosong.

Penyunatan yang terjadi di arena MTQ tingkat kelurahan, mengundang tanggapan serius dari Kementrian Agama (Kemenag) Kota Bima.

Kepala Kemenag Kota Bima, Drs. H. Syahrir, M.Si, yang ditemui Kahaba  di ruang kerjanya, merasa kecewa dengan kelakuan panitia maupun oknum yang bermain mengambil keuntungan di balik kegiatan keagamaan tersebut. Semestinya, pihak panitia berlaku jujur dan terbuka serta transparan dalam menggelar kegiatan MTQ. Apalagi pihak Pemerintah Kota Bima, sudah cukup membantu secara total dalam setiap kegiatan MTQ se Kota Bima.

“Panitia dan pihak kelurahan harus jujur dan transparan dalam menggelar kegiatan berbasis agama. Hindari protes warga dengan pelaksanaan kegiatan yang lebih profesional. Jangan beri peserta dengan hadiah amplop kosong, sungguh tindakan itu sangat memprihatinkan. Ke depan, semoga semua bisa berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Syahrir, Jum’at 11 Mei 2012. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. e.. wojo menarae… ma iu menapa pere…
    mau berkata apalagi kalau budaya baru kita sudah seperti ini jalannya… sekarang, saran saya kepada pembaca KAHABA titik INFO, jaga masing-masing diri kalian dan keluarga kalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *