Pendidikan di Desa Oi Bura Tambora Masih Tertinggal

Kabupaten Bima, Kahaba.- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei harus menjadi refleksi dan evaluasi bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan kondisi pendidikan di Kabupaten Bima.

Ilustrasi

Ilustrasi

Sebab harus diakui, pendidikan yang layak dan merata belum dinikmati semua masyarakat di beberapa pelosok desa di Kabupaten Bima. Sebut saja Desa Oi Bura Kecamatan Tambora.

Di Desa ini hanya ada tiga sekolah dasar dengan kondisi yang jauh dari kata layak. Selain Kepala Sekolah, sisanya belum ada guru berstatus Pegawai Negeri Sipil. Tak hanya itu, usai tamat sekolah dasar, siswa setempat terpaksa melanjutkan pendidikan ke desa lainnya yang jaraknya relatif jauh. Hal itu lantaran belum ada satupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang didirikan Pemerintah.

“Kami harapkan Pemerintah bisa turun meninjau agar segera memikirkan mendirikan SMP di Oi Bura. Demi kelanjutan pendidikan generasi muda di Desa kami. Selain itu, sangat mengharapkan ada tenaga guru PNS untuk membantu pengajaran di tiga SD tersebut,” kata Tokoh Pemuda Oi Bura, Ayatullah, kemarin saat menghadiri kegiatan di Hotel Lambitu Kota Bima.

Selain bidang pendidikan kata Pengurus Masyarakat Pecinta Tambora (Mapata) ini, kondisi infrastruktur di Oi Bura sangat tertinggal sekali. Bayangkan saja kata dia, sejak puluhan tahun lamanya, jalan utama di desa setempat belum pernah diaspal. Tak heran, ketika melewati Oi Bura para tamu harus berjuang menghindari jalanan berlubang.

Kondisi itu lanjutnya, menyebabkan waktu tempuh ke Oi Bura sangat lama dan membuat para tamu dari luar daerah mempertimbangkan untuk datang. Aktivitas ekonomi masyarakat juga dipastikan sangat terhambat. Ada yang lebih parah lagi, yakni jembatan sama sekali belum ada. “Praktis ketika orang ingin lewat harus melalui bawah kali,” kata dia.

Untuk itu, dirinya berharap pemerintah daerah tidak menutup mata dengan kondisi Oi Bura dan desa lainnya di Kecamatan Tambora. Apalagi diakuinya, Oi Bura memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan, khususnya di bidang pariwisata.

“Kita punya Uma Na’e, Pabrik Kopi, Kebun Kopi peninggalan Belanda, air terjun yang mempesona, U’a Ama Ncoki dan tentunya Gunung Tambora. Ini belum dikemas secara apik dalam belum dijadikan potensi yang menarik bagi pemerintah untuk pengembangan bidang pariwisata,” tandasnya.

*Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *