Tambora Akan Dikembangkan Sebagai Ecomuseum

Kabupaten Bima, Kahaba.- Banyak cara yang dilakukan oleh suatu bangsa atau daerah dalam upaya memajukan perekonomian guna meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, mengatasi pengangguran, menghapus kemiskinan dan keterbelakangan. Upaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat sebagai buah dari usaha ekonomi nasional yang mandiri.

Husnul Hatimah M.Hum saat memberikan materi tentang pengembangan kawasan Tambora. Foto: Erde

Staf Disbudpar Kabupaten Bima usnul Hatimah M.Hum saat memberikan materi tentang pengembangan kawasan Tambora. Foto: Erde

Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan industri pariwisata beserta industri kreatifnya. Pengembangan industri ini sangat dimungkinkan mengingat begitu kayanya Indonesia dengan banyaknya ragam pesona, mulai dari alam, sejarah, budaya, way of life dan local genius masyarakat.

Menurut staf Disbudpar Kabupaten Bima, Khusnul Hatimah, M. Hum, Bima merupakan salah satu wilayah yang mempunyai ragam potensi alam dan budaya yang khas dan unik. Salah satunya adalah Gunung Tambora sebagai salah satu gunung api yang masih aktif sampai saat ini. Pada bulan April tahun 1815.

Khusnul mengaku, Pemerintah Daerah Kabupaten Bima sebagai pemegang kewenangan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima telah berupaya sebaik mungkin dalam usaha pengembangan kawasan. Usaha-usaha tersebut dilakukan dengan berbagai cara, baik dalam bentuk fisik maupun dilakukan dalam bentuk non fisik yaitu dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun.

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan baru-baru ini adalah pembukaan jalur pendakian baru yang bekerjasama dengan Lembaga Kearifan Lokal Indonesia (LKLI). Jalur baru itu yakni dengan rute melalui Oi Tampuro – Pos 1 (Tabe Na’e) – Pos II ( Ngguwu Fatima) – Pos III (Oi Jara) – Puncak. Selain itu, terdapat berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung, yaitu Festifal Kopi Tambora dengan berbagai item kegiatan yaitu lomba Menggoreng Kopi, Lomba Meracik Kopi, dan Pentas Seni Tradisional.

Selanjutnya jelas Khusnul, program pengembangan Tambora kedepan yang patut menjadi perhatian bersama adalah pengembangan kawasan Tambora menjadi sebuah kawasan Ecomuseum. “Program ini merupakan keberlanjutan dari program-program sebelumnya yang diprakarsai oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan bekerjasama dengan Balai Arkeologi Bali dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bima melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” paparnya di saat Pelatihan Pemuda Tambora di Hotel Lambitu beberapa hari lalu.

Ecomuseum urainya sebuah museum yang didirikan oleh komunitas untuk komunitas sebagai upaya untuk memberdayakan suatu wilayah untuk dimanfaatkan seutuhnya oleh masyarakat. Tujuannya adalah untuk pengembangan kebudayaan, tradisi, way of life (cara hidup), dan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat lokal. Fokus kegiatannya adalah pada pengembangan identitas sebuah tempat berdasarkan partisipasi aktif dari masyarakat atau komunitas untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan.

“Tujuan ecomuseum adalah sebagai wilayah Konservasi dan pemanfaatan yang seimbang antara lingkungan dan sumber daya alam, dan Pelestarian, transmisi, dan memperkaya warisan budaya,” urainya.

*Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *