Warga Kalampa Sandera Motor Kapolsek Woha

Kabupaten Bima, Kahaba.- Ratusan warga Desa Kalampa, Kecamatan Woha Kabupaten Bima, Sabtu (13/6) menggelar aksi. Tidak hanya boikot Kantor Desa setempat. Tapi juga menyandera Sepeda Motor Kapolsek Woha.

Warga Desa Kalampa saat blokir jalan. Foto: Teta

Warga Desa Kalampa saat blokir jalan. Foto: Teta

Itu dilakukan warga menuntut, agar Polres Bima Kabupaten segera melepas dua warga Kalampa yang ditahan akibat konflik beberapa waktu lalu.

Akibat aksi tersebut, aktivitas arus lalulintas di Desa Kalampa lumpuh. Pengendara pun harus putar haluan menuju jalan Palibelo.

Warga Kalampa, Paimin mengaku, kecewa dengan pihak Kepolisian yang hanya terus berjanji melepas dua warga Kalampa, Muhidin dan Juaha yang ditahan setelah konflik dengan Desa Dadi Bou.

“Negosiasi dengan polisi sudah dilakukan. Bahkan, Kapolres Bima Kabupaten sudah memberikan waktu selama dua minggu saja, dua warga kami ditahan. Tapi buktinya, sekarang sudah satu bulan belum juga dibebaskan,” sorotnya.

Menurut dia, sikap menggelar aksi dengan memblokir jalan, boikot Kantor Desa dan menyandera motor Kapolsek menjadi langkah terpaksa yang dianggap benar, agar tuntutan mereka segera diwujudkan. “Cara apa lagi yang mesti kami lakukan selain ini. Cara baik-baik sudah kami lakukan, tapi tak kunjung ditanggapi,” katanya.

Menurut dia, dua warga Kalampa itu ditahan Polisi setelah menjalani operasi di RSUD Bima, akibat terkena peluru karet saat bentrok. “Sampai sekarang kami belum tahu, apa dasar mereka ditahan,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Bima Kabupaten AKBP. Gatut menjawab tuntutan warga, pihaknya tetap memproses dua warga Kalampa sesuai dengan aturan hukum. Sebab, yang dikedepankan sekarang ini adalah kepastian hukumnya. “Masyarakat juga harus mengerti soal proses hukum,” jawabnya.
*Bin/Teta

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *