Pelayanan Kartu Jujur Sehati, Setengah Hati

Kota Bima, Kahaba.- Pelayanan kartu Jujur Sehati Pemerintah Kota Bima tidak seindah yang digembar – gemborkan. Kebijakan penggunaannya pun seolah tidak sepenuh hati. Karena memasuki hari keempat pelayanan, pasien dibebankan dengan biaya.

Kartu Jujur Sehati. Foto: Bin

Kartu Jujur Sehati. Foto: Bin

Seperti yang dialami Rugayah, warga Kelurahan Penaraga, karena lebih dari tiga hari dirawat di Puskesmas Asakota, harus mengeluarkan uang sekitar Rp 300.000 untuk membayar pelayanan.

“Istri saya dirawat empat hari di Puskesmas Asakota. Karena kata perawat, kartu Jujur Sehati hanya berlaku tiga hari, hari keempat dikenakan biaya,” ujar Anwar, suami Rugayah.

Ia menyebutkan, biaya sekitar Rp 300.000 yang dikeluarkan itu untuk bayar tes darah di Laboratorium, sewa kamar, biaya perawatan hingga biaya pemasangan infus, biaya pemeriksaan dokter, hingga plus obat asam lambung atau magh.

“Kartu Jujur Sehati malah tidak berfungsi untuk kami rakyat miskin. Ini sama halnya kami yang miskin dilarang sakit melebihi tiga hari,” katanya.

Karena tidak ada uang banyak yang harus disiapkan untuk membayar perawatan, lanjut Anwar, dirinya pun memilih untuk mengeluarkan istrinya dari Puskesmas Asakota dan memilih untuk berusaha pengobatan tradisional.

“Istri saya sakit Magh, masuk dan dirawat di Puskesmas Asakota Hari Jumat dan keluar hari Senin. Jadi kami memilih keluar saja, karena kartu Jujur Sehati sudah tidak berfungsi,” tuturnya.

Di tempat berbeda, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bima, Hj. Fitriani mengaku jika waktu penggunaan Kartu Jujur Sehati sudah diatur dalam Perda, yakni sebanyak tiga hari. Selebihnya dikenakan biaya. “Tapi untuk pasien yang sakitnya parah, bisa dibijaksanai,” ucapnya, Rabu (8/7).

Namun, sambung Fitriani, pihaknya dari dulu sudah meminta ke pihak Puskesmas untuk tidak dipungut biaya, jika ada yang lebih dari tiga hari. Seperti empat hari atau lima hari.

“Bagi yang benar – benar tidak mampu, kemudian dirawat lebih dari tiga hari, kami sudah minta untuk tidak dipungut biaya,” jelasnya.

Soal obat, menurut dia, tergantung dari jenis penyakit yang diderita pasien. Jika obatnya tidak ada dalam pelayanan dasar kesehatan atau dalam Kartu Jujur Sehati, jadi harus membeli diluar.

“Untuk masalah ini kami akan koordinasi dan komunikasi kembali dengan pihak Puskesmas,” tambahnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *