Ali Fauzi Benarkan SOP Densus Bekuk Teroris

Kota Bima, Kahaba.- Terkait Standar Operisional Prosedur (SOP) Anti Teror Detasemen 88 Mabes Polri, ketika membekuk terduga teroris saat Sholat, usai Sholat, saat mengajar mengaji maupun tengah mengambil air wudhu, dibenarkan mantan komandan Afganistan, Moro, dan Ambon, Ali Fauzi. (Baca. Adik Kandung Ali Imron Tinggalkan Paham Radikal)

Ali Fauzi

Ali Fauzi

Menurut adik kandung terpidana mati Bom Bali Ali Imron, waktu yang tepat menjadi tugas pokok Densus 88 saat membekuk terduga teroris. Dalam kelompok Jamaah Mujahidin di Afganistan juga membenarkan tindakan Densus 88 Mabes Polri ketika menangkap terduga teroris usai atau sebelum ibadah. Bahkan, diwaktu ibadah sekalipun dibenarkan olehnya.

Menurut dia, terduga teroris bukan orang biasa yang dengan gampang dibekuk begitu saja. Tapi, orang-orang yang dilatih secara Militer yang tidak diragukan kemampuannya.

“Terduga teroris wajib ditangkap pada waktu yang tepat. Jika Densus 88 membekuk terduga teroris di luar dari rancangan awal, maka saya yakin terduga teroris yang mau dibekuk akan lolos bahkan melawan,” ujarnya saat diwawancarai di Hotel Mutmainah saat menghadiri dialog pencegahan paham ISIS, beberapa waktu lalu.

Densus 88 yang menangkap guru mengaji saja katanya, terkadang benar. Benar yang dimaksudnya adalah, karena Densus sebelumnya telah mengantongi alat bukti maupun nama terduga teroris. “Jangan salahkan Densus, kalau memang ada guru ngaji yang ditangkap saat mengajar. Saya yakin, Densus telah mengantongi dugaan keterlibatann si oknum Guru ngaji itu,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia berharap agar beberapa kelompok penganut paham radikal yang muncul belakangan, yang diduga dari kelompok Santoso, segera berbalik haluan. Sebagai orang terlatih dalam medan konflik, di Afganistan dan sebagai pelatih perakit Bom, dia menilai cara berfikir kelompok radikal terkini sudah melenceng dari keinginannya saat itu.

“Saya mengundurkan diri menjadi salah satu pengikut Mujahidin Indonesia, disebabkan Bom yang dibuat selama ini disalahgunakan,” terangnya.

Bom yang dirakit dan disalahgunakan untuk meledakan jembatan, jalan raya, Mall dan pasar merupakan perbuatan yang salah. “Jujur, saya sangat menyesal masuk dalam Paham radikal itu,” sesalnya.

Ia juga mengaku, sudah banyak belajar dengan beberapa orang Bima di Malaysia dan Afghanistan, termasuk sebagai guru perakit Bom di Ambon. Ia pun meminta agar Bima, jangan menjadi pusat perhatian zona Indonesia Timur yang diisukan kelompok menganut paham radikal.

Untuk itu, ia menyarankan agar sesegara mungkin Pemerintah bertindak cepat untuk memetakan kelompok-kelompok tertentu, agar tidak berimbas pada kelompok Islam lainnya. Karena hanya akan merugikan penduduk setempat.

“Keterlibatan Pemerintah harus lebih maksimal. Tidak saja sekadar menangkap terduga teroris lalu selesai. Namun, kegaduhan yang diciptakan saat penangkapan dan image yang terlanjur terbentuk ini yang sangat meresahkan. Ini yang harus dihilangkan,” sarannya.

*Teta

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *