Minasarua, Racikan Rempah Kaya Khasiat

Kabupaten Bima, Kahaba.- Selain dikenal memiliki susu kuda liar, daerah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat juga memiliki banyak makanan dan minuman khas lain yang sudah dikenal luas hingga ke luar daerah. Satu diantaranya adalah Minasarua.

Mina Sarua Siap Dihidangkan. Foto: Erde

Mina Sarua Siap Dihidangkan. Foto: Erde

Minuman yang satu ini tak perlu ditanya lagi ketenarannya seantero Kota dan Kabupaten Bima. Tak hanya nikmat, minuman khas ini dipercaya memiliki banyak khasiat untuk tubuh.

Menariknya, bagi anda yang berminat ingin mencicipi Minasarua tak akan bisa mendapatkannya ditempat lain. Sebab, satu-satunya daerah yang membuat dan menjual racikan rempah-rempah ini di Bima hanya ada di Kampung Sumbawa Desa Bontokape Kabupaten Bima.

Namun, anda juga tak akan dibuat pusing mencarinya, karena hampir setiap rumah sepanjang jalan lintas negara di Kampung Sumbawa menjual Minasarua.

Selain itu, papan bertuliskan ‘Menjual Minasarua’ berjejer menghiasi pinggir jalan. Tinggal anda pilih mau membeli dari penjual yang mana. Soal kualitas rasa, dijamin racikan rempah setiap penjual hampir sama dan membuat anda tak akan melupakan tempat pembuatannya.

Bagaimana soal khasiatnya? Nah, pertanyaan yang satu ini sepertinya tak afdal kalau tidak bertanya langsung pada ahlinya. Menurut Nur Aini (61), warga Kampung Sumbawa yang sudah puluhan tahun membuat dan menjual Minasarua, minuman yang konon merupakan inovasi dari Minyak Saruang asal Sumbawa ini sangatlah banyak khasiatnya.

Diantaranya, mampu meningkatkan kebugaran tubuh, mengurangi rasa pegal selesai kerja, menjaga tubuh dari masuk angin, menghangatkan tubuh, mengobati penyakit magh, menambah nafsu makan dan meningkatkan stamina. Khasiat itu telah dipercaya secara turun temurun sehingga sampai saat ini Minasarua tetap dipertahankan dan dilestarikan di Kampung Sumbawa.

“Minasarua sudah ada sejak jaman dulu, kita hanya meneruskan racikan para orangtua kita dulu dan rasa aslinya masih kita pertahankan,” kata Nur Aini kepada Kahaba.

Peminat Minasarua terang Nur Aini, tidak hanya dari masyarakat lokal, tapi juga berbagai daerah. Letak Kampung Sumbawa yang berada di pinggir jalan lintas negara memudahkan siapapun yang datang membeli Minasarua. Hampir setiap hari, pengendara mobil dan sepeda motor berbagai daerah yang melintas mampir untuk membeli Minasarua.

“Ada juga yang sengaja datang untuk membeli bersama keluarganya. Jelang Magrib itu biasanya sudah habis jualan kita,” akunya.

Pada kesempatan wawancara, Nur Aini juga membagikan bahan-bahan sekaligus cara meracik Minasarua dan pastinya pembaca bisa mempraktekannya di rumah. Bahan-bahannya seperti, Beras ketan 1 Kg, Beras biasa 1 Kg, Ragi 8 biji, Kelapa 5 butir, Jahe ½ Kg, Merica 1 Ons, Lada Jawa 1 Ons, Kunyit 1 Ruas, Gula Merah ½ Kg, Gula Putih ½ Kg, Air secukupnya.

“Sementara Alat-alat yang dibutuhkan seperti Periuk, Talenan, Nampan, Kuali/Wadah Tertutup, Gilingan Kelapa, Wajan, Sendok Pengaduk, Blender, Saringan, Dandan, Kompor,” sebutnya.

Sementara proses pembuatan, sambung Aini, Pembuatan Tapai Beras, Beras ketan dan beras biasa dicuci terlebih dahulu, lalu dimasak sampai menjadi nasi dan didinginkan di nampan. Ambil ragi yang sudah ditumbuk / diremas halus dan dicampurkan dengan nasi yang telah didinginkan. Disimpan dalam kuali atau wadah tertutup yang kedap udara dan didiamkan selama 24 jam.

Kemudian pembuatan Tainlala /Ampas Minyak, Kelapa digiling kemudian diperas santannya dan disaring. Santan direbus dengan wajan hingga minyak dan ampasnya terpisah. Pisahkan minyak dan ampasnya.

Untuk Pembuatan Bumbu, Semua bumbu dihaluskan menjadi satu dan diberi sedikit air. Campuran bumbu ditumis dengan minyak kelapa hasil dari pembuatan ampas minyak (ta’i mina). Setelah kering bumbu diangkat.

Lalu, Pembuatan Minasarua, Gula merah direbus sampai mendidih sehingga benar-benar larut. Larutan itu disaring agar menjadi halus. Masukan tapai beras ke dalam periuk. Masukan larutan gula yang sudah dilarutkan dan disaring. Masukkan bumbu yang sudah ditumis. Diaduk sampai benar-benar bercampur dan dimasak di atas kompor selama kurang lebih 2 jam. Setelah itu taburkan ta’i mina. Minasarua siap untuk dihidangkan.

*Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *