Lariti, Pantai Cantik Diujung Timur Bima

Kabupaten Bima, Kahaba.- Siapa bilang Bima tidak memiliki destinasi wisata yang mempesona. Dari sekian banyak pantai yang ada, Pantai Lariti yang berlokasi di Desa Soro Kecamatan Lambu Kabupaten Bima NTB, tak kalah mempesona.

Pesona Pantai Lariti. Foto: Bin

Pesona Pantai Lariti. Foto: Bin

Ibarat melihat gadis, Lariti tumbuh dengan kecantikannya yang alami. Pesonanya mengundang decak kagum, suasana alam memanjakan siapapun yang mendatanginya.

Semakin lengkap keindahan yang diberikan Lariti, ketika mata melihat fenomena yang menakjubkan. Laut terbelah ibarat kisah Nabi Musa. Jalan berpasir dengan lebar sekitar tiga meter, menghubungkan pantai Lariti dengan Gunung kecil ditengah laut seluas satu Hektar.

Laut terbelah menjadi daya tarik tersendiri bagi pantai Lariti. Jalan berpasir itu akan terlihat sekitar pukul 10.00 Wita. Kemudian, sekitar pukul 15.30 Wita, jalan sepanjang 350 meter itu akan kembali ditutupi birunya laut.

“Laut yang terbelah inilah yang membuat orang penasaran datang ke Pantai Lariti,” ujar Haminah 60 tahun, warga Desa setempat, Sabtu (25/7).

Dari Kota Bima, butuh waktu sekitar dua jam untuk tiba di Pantai Lariti. Setelah tiba di Kecamatan Lambu, pengunjung akan menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer dengan jalan berkelok dan bebatuan.

Menurut Haminah, Pantai Lariti mulai didatangi dan dikenal sejak tiga tahun lalu. Hanya saja, dulu jalan menuju pantai tersebut hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Sejak adanya Tambak Udang di sekitar, jalan mulai dibuka dan dilalui Mobil.

“Sejak Tambak Udang ada, Pantai Lariti ramai dikunjungi. Setiap hari pasti ada yang datang. Pengunjung sangat ramai apabila di Hari Libur dan wisata masyarakat di Hari Raya,” kata perempuan yang juga sering menjual makanan dan minuman ringan di sekitar pantai tersebut.

Pantai Lariti Bima. Foto: Bin

Pantai Lariti Bima. Foto: Bin

Pantai di ujung Timur Bima itu kini menjadi idola baru. Seperti yang terlihat raut pengunjung, tiba di lokasi, moment mengabadikan dengan berbagai jenis kamera menjadi kegiatan utama. Ada yang memilih foto di laut terbelah, juga tak sedikit memilih sudut pengambilan foto di pulau tengah laut.

Menurut H. Umar, Nama Lariti diambil dari nama lingkungan di Desa setempat. Namun, pantai tersebut pada zaman dulu dikenal dengan Pantai Lampa Jara (Jalanan Kuda). Karena lokasi tersebut dijadikan tempat untuk melepas Kuda ternak, termasuk Kuda milik Sultan Bima.

“Karena sudah terbiasa di sebut Pantai Lariti, ya akhirnya Pantai ini lebih dikenal dengan Pantai Lariti dari pada Pantai Lampa Jara,” tuturnya.

Namun apapun namanya, gugusan Surga Tuhan tersebut sungguh mempesona. Semoga saja kecantikannya akan tetap terjaga dengan baik. Menjadi pilihan wisata yang terus ramai didatangi.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Fika

    Sayang sekali terlalu banyak sampah disana. Baik itu tepi pantai lariti maupun bajo pulo. Seharusnya pemerintah khususnya dinas pariwisata memperhatikan hal ini. Selain juga diperlukan kesadaran masyarakat sebelum keindahan alam tersebut menjadi rusak.

  2. Givon

    Tambak udang . Ancaman bagi lingkungan apbila pengelola sembarangan membuang limbah, masyarakat Lambu sape hanya akan jadi penonton. Laut dan pantai yang bersih hanya tinggal kenangan. Sekarang sudah mulai terbukti di Torowamba dan Mata mboko . laut yg dulunya bersih, sekarang sudah keruh akibat endapan lumpur dan limbah dari tambak udang. Jangan lupa disebelah Lariti itu ada kawasan SO PANIHI karenabdi ssitu tmpt habitatnya kelelawar. Kalo terus di eksplorasi daerah disekitar situ, ya kita akan lumayan mengalami bencana lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *