Beasiswa Siswa Miskin Disunat, Orang Tua Protes

Kota Bima, Kahaba- Jika anda berpikir korupsi menjadi kutukan bagi negeri ini bisa jadi ada benarnya. Korupsi seakan tak berhenti, menjalar hingga hampir semua institusi. Belum lama mencuat kasus dugaan korupsi di SD 62 kota Bima dan SMPN 5 Soromandi, kini masyarakt Bima dikejutkan juga oleh hal serupa. Dana bantuan siswa miskin (BSM) diduga disunat oleh oknum di SDN 01 kota Bima. Ironisnya hal ini terjadi pada sekolah yang dirintis sebagai sekolah bertaraf internasional.

ilustrasi

Kasus bermula dari jatah dana siswa miskin yang dinilai dipotong sepihak. Sejatinya tiap siswa yang berhak akan memperoleh uang senilai Rp 360 ribu. Namun siswa harus gigit jari lantaran hanya dijatah Rp 200 rupiah untuk masing-masing siswa yang berjumlah 36 orang. Pengurangan alokasi tersebut atas dalih kepentingan sekolah dan pemerataan bagi siswa lain yang tidak mendapatkannya. Dana bantuan BSM ternyata dinilai kurang oleh pihak sekolah.

Terungkapnya masalah pemotongan dana BSM dikeluhkan salah seorang orang tua siswa yang enggan namanya dikorankan. BSM yang diterima anaknya, dipotong tanpa sepengetahuan dan persetujuan sebagian besar wali murid. Keterangannya itu praktis menjadi indikasi ketidakberesan dalam pengelolaan beasiswa.

Sementara itu, Kepsek SDN 01 Kota Bima, Burhanuddin AR SPd, ketika dikonfirmasi sejumlah wartawan di ruangannya, Selasa (15/05), membantah keras tudingan ini. ,”saya tidak pernah tahu adanya pemotongan beasiswa, lihat uang saja saya tidak pernah,” pungkasnya. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa seluruh BSM telah disalurkan sesuai prosedur tanpa potongan sedikitpun. Bilapun ada jatah yang berkurang itu sudah disepakati oleh guru maupun orang tua murid. Burhanuddin berkeras bahwa pemotongan dana semata-mata untuk pembagian bagi siswa miskin yang tidak menerima beasiswa yang sama.

 Burhanuddin kemudian berkilah bisa jadi pemotongan dilakukan oleh guru-guru yang berwenang. Menurutnya semua wali murid hadir pada saat rapat BSM dan ia tidak sempat mengikuti rapat hingga selesai karena urusan lain. “Saya tidak tahu pasti soal pembagian BSM, tanyakan saja sama pak Salahuddin (guru yang berwenang membagikan dana BSM), “tukasnya. Anehnya guru-guru yang berwenang itu dipilih langsung oleh kepala sekolah. Bahkan regulasi BSM disekolah tidak mungkin tidak diketahui oleh pimpinan sekolah.

Kejadian semakin absurd tatkala Burhanuddin tiba-tiba mengakui adanya pemotongan BSM. Hal ini terjadi ketika ia berbicara dengan guru yang membagikan jatah BSM. Tapi sekali lagi ia berkilah dengan alasan yang sama. Alokasi BSM pada dasarnya tidak mampu menutupi semua jumlah siswa miskin yang ada. Hingga berita ini diturunkan kejelasan mengenai pemotongan beasiswa ini masih menjadi teka teki. (BS)

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *